Desa Ngringinrejo

URL Cerital Digital: https://blokbojonegoro.com/2021/04/16/asal-muasal-desa-ngringinrejo-sesepuh-ada-senopati-moksa-di-beringin-raksasa/?m=0#google_vignette

Di tepian Bengawan Solo yang berliku, berdiri sebuah desa bernama Ngringinrejo. Desa ini berada di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, hanya berjarak sekitar delapan belas kilometer dari pusat kota. Kini desa ini dikenal sebagai penghasil buah belimbing yang manis dan segar. Namun jauh sebelum sawah dan kebun belimbing terbentang luas, kisah desa ini berawal dari sebuah legenda yang melekat kuat di hati penduduknya.

Alkisah, pada abad ke-16 Masehi, tanah Jawa tengah diguncang perang besar antara Kerajaan Pajang dan Jipang Panolan. Pertempuran itu terjadi setelah keruntuhan Kerajaan Demak, ketika Pangeran Hadiwijaya dan Arya Penangsang saling memperebutkan tahta dan wilayah. Perang berkepanjangan membawa derita bagi rakyat, memporakporandakan tatanan, dan membuat banyak prajurit kehilangan semangat.

Di tengah gejolak itu, seorang senopati Pajang bernama Hadi Laksana memutuskan meninggalkan medan perang. Bersama pasukan yang tersisa, ia berjalan tanpa arah, menyusuri hutan dan lembah, hingga akhirnya tiba di tepi Bengawan Solo. Di sana, mereka menemukan sebuah pohon beringin raksasa. Pohon itu begitu rindang, akarnya menjuntai ke tanah, dan daunnya bagai payung hijau yang meneduhkan tubuh-tubuh letih para prajurit.

Beringin itu bukan pohon biasa. Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai pohon kehidupan, yang daunnya kerap dipakai dalam pengobatan tradisional. Senyawa alami seperti tanin, saponin, dan alkaloid di dalamnya dipercaya bisa meredakan luka atau sakit ringan. Meski tidak menjadi makanan pokok, keberadaan beringin memberi isyarat betapa alam menyediakan penopang hidup dengan cara yang sederhana.

Ketika pasukan Hadi Laksana tengah beristirahat di bawah naungan beringin, mereka dikepung oleh prajurit Jipang. Jalan keluar tertutup. Para prajurit Pajang hampir putus asa. Dalam situasi itu, Hadi Laksana mengangkat keris pusakanya ke langit dan berdoa dengan sepenuh hati. Ia memohon agar Tuhan menyelamatkan pasukannya yang telah setia berjuang.

Dari ujung keris itu, keluar asap putih yang kian lama semakin tebal. Asap itu menutupi batang, akar, dan seluruh rimbun beringin. Dalam kepulan putih yang menyilaukan mata, Hadi Laksana dan pasukannya melompat masuk, hingga tubuh mereka lenyap tak berbekas. Sejak saat itu, diyakini bahwa sang senopati dan para prajuritnya moksa, menghilang dari dunia fana dan kembali ke pangkuan Yang Mahakuasa.

Tempat di mana mereka moksa kini dikenal sebagai punden Mbah Sirno, sebuah lokasi keramat yang berada di Dusun Ringin. Nama Mbah Sirno sendiri diyakini sebagai nama lain dari Hadi Laksana, sang senopati yang sirna bersama pasukannya. Dari sinilah asal mula nama Desa Ngringinrejo, yang berarti desa dengan beringin yang berjajar rindang.

Seiring berjalannya waktu, Ngringinrejo berkembang menjadi desa yang ramai. Kepala desa pertama, Ngabdul Hadi, memimpin rakyatnya membuka wilayah baru. Ia menamai dusun-dusun sesuai harapan dan doa. Ada Dusun Mejayan, pusat pemerintahan yang melambangkan kejayaan. Ada Dusun Margorejo, jalur lalu lintas yang ramai. Ada pula Dusun Cobaan, tanah gersang yang kemudian berubah menjadi lahan subur berkat ketekunan warga.

Kini, Ngringinrejo bukan hanya menyimpan legenda, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata di Bojonegoro. Pohon beringin tetap dikenang, bukan sekadar penanda sejarah, tetapi juga simbol kearifan lokal. Meski fungsi pangannya tidak sebesar padi atau jagung, beringin mengajarkan bahwa setiap bagian alam memiliki kegunaan. Daunnya memberi obat, akarnya menjadi tempat berteduh, dan kisahnya menjaga nilai kebersamaan serta keberanian.

Di balik kebun belimbing yang hijau, riwayat beringin tetap berakar kuat. Ia mengingatkan bahwa dari pohon raksasa inilah lahir sebuah desa yang hidup, berkembang, dan dikenang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.