Desa Pangkur

URL Cerital Digital: https://pangkur.desa.id/index.php/artikel/2022/8/24/legenda-asal-usul-nama-desa-pangkur

Pada abad-abad silam, ketika kejayaan kerajaan-kerajaan di tanah Jawa masih bergaung, tanah yang kini dikenal sebagai Desa Pangkur pernah menjadi saksi peristiwa besar. Tahun itu diperkirakan sekitar 1478, saat peperangan antara Majapahit dan Padjajaran berkecamuk. Pasukan dari berbagai penjuru bergerak menuju barat dan timur, meninggalkan jejak sejarah yang kemudian hidup dalam ingatan masyarakat setempat.

Di tengah perjalanan panjang dan melelahkan, rombongan prajurit yang dipimpin oleh Mbah Wariyem berhenti di sebuah tempat yang tenang. Mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga, dan tempat itu kemudian disebut Serenan. Nama itu berasal dari kata palerenan, yang berarti tempat peristirahatan. Sementara itu, sebagian pasukan lain yang dipimpin oleh Mbah Bodro memilih berhenti di sebuah wilayah yang kelak disebut Pangkur. Kata kur dalam bahasa Jawa bermakna “sampai di situ saja”, menggambarkan titik akhir perjalanan mereka.

Di tempat ini pula seorang prajurit pemberani gugur dalam tugasnya. Untuk mengenang jasanya, makamnya ditandai dengan sebuah pohon juwet yang tumbuh di tepi sungai bagian timur. Pohon juwet atau jamblang, dengan buahnya yang berwarna ungu kehitaman, sejak dulu telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Buahnya dapat dimakan segar, diolah menjadi jus yang menyegarkan, dijadikan selai manis, bahkan difermentasi menjadi minuman tradisional. Selain buahnya, daun juwet kerap dimanfaatkan untuk pakan ternak atau ulat sutra, dan kulit batangnya digunakan dalam penyamakan serta pewarnaan alami. Kehadiran pohon juwet di makam prajurit itu seolah menjadi simbol bahwa perjuangan yang ia taburkan akan terus memberi kehidupan, sama seperti pohon juwet yang terus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan pasukan tidak berhenti di sana. Sebagian lainnya menyebar dan membentuk pemukiman baru. Ada yang mendirikan kampung bernama Ngléri, berasal dari kata kleleran yang berarti terlantar, dan keri yang berarti tertinggal. Nama itu menggambarkan kisah mereka yang tertinggal dari rombongan besar.

Rombongan lain, dipimpin oleh Mbah Koso dan Mbah Dombo, tiba di sebuah tempat dengan kolam luas dan sebuah pohon capang yang menjulang. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Balongcapang, gabungan dari kata balong yang berarti kolam dan capang yang merujuk pada pohon besar di dekatnya. Ada pula sekelompok prajurit yang berjalan lebih jauh ke selatan hingga menemukan wilayah dengan pohon-pohon sambi yang rindang. Mereka kemudian menamakan tempat itu Sambirobyong, dari kata sambi yang berarti pohon sambi dan ngremboyong yang berarti rimbun dan teduh.

Seiring waktu, nama-nama tempat itu tidak hilang ditelan zaman. Serenan, Pangkur, Ngléri, Balongcapang, dan Sambirobyong tetap hidup sebagai penanda sejarah dan jejak perjuangan masa lalu. Dari semua itu, Pangkur menjadi nama yang kemudian melekat kuat, menggambarkan tempat perhentian akhir prajurit Majapahit di tanah Ngawi.

Hingga kini, kisah itu masih dikenang oleh masyarakat Desa Pangkur. Pohon juwet yang dahulu menjadi penanda makam seorang prajurit tetap menjadi simbol keteguhan dan sumber kehidupan. Buahnya yang manis asam masih dinikmati banyak orang, baik sebagai makanan segar maupun olahan tradisional. Pohon juwet tak hanya menjadi bagian dari cerita rakyat, tetapi juga bukti nyata bagaimana alam menyediakan pangan yang terus menghidupi manusia dari generasi ke generasi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.