Desa Pelemwatu

URL Cerital Digital: https://id.scribd.com/document/367893827/Asal-usul-Desa-Pelemwatu#:~:text=Usul%20Desa%20Pelemwatu-,Desa%20Pelemwatu%20dinamakan%20demikian%20karena%20Sunan%20Giri%20dan%20para%20sahabatnya,Abdullah%20masih%20dihormati%20hingga%20sekarang.

Pada abad ke-14, ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sunan Giri bersama para sahabatnya menempuh perjalanan panjang menyebarkan ajaran agama. Suatu siang di tahun 1350, rombongan itu tiba di sebuah tanah lapang yang masih sunyi dan belum banyak didiami orang. Matahari sedang terik, sehingga mereka mencari tempat untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pohon rindang yang tumbuh kokoh. Pohon itu adalah pohon pelem, sebutan masyarakat Jawa untuk mangga. Daunnya lebat dan buahnya menggantung segar, seakan menyambut kedatangan mereka. Di bawah pohon itulah Sunan Giri dan para sahabatnya berhenti. Dengan tenang, mereka melaksanakan sholat Dhuhur, beristirahat, dan melepas lelah. Hembusan angin dari sela daun pelem membuat suasana teduh, seakan alam ikut menjaga mereka.

Usai beristirahat dan beribadah, rombongan kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Namun, seorang sahabat Sunan Giri bernama Said Abdullah merasa terpikat dengan tempat itu. Ia merasakan ketenteraman yang berbeda, seolah hatinya berbisik untuk menetap. Dengan izin Sunan Giri, ia memutuskan tinggal di desa tersebut. Dari saat itulah, Said Abdullah dikenal sebagai penduduk pertama yang benar-benar menetap di sana.

Seiring waktu, desa itu berkembang menjadi sebuah pemukiman. Pohon pelem yang pernah menaungi Sunan Giri dan sahabat-sahabatnya menjadi penanda sejarah, sekaligus sumber pangan yang memberi manfaat. Buah pelem yang segar dan manis bukan hanya menghilangkan dahaga di siang yang terik, tetapi juga menjadi lambang keramahtamahan. Setiap kali ada tamu berkunjung, masyarakat desa kerap menjamu mereka dengan buah pelem yang dipetik dari kebun atau pekarangan.

Hingga kini, desa itu dikenal dengan nama Pelemwatu. Makam Said Abdullah masih dijaga dan dihormati, menjadi bukti nyata bahwa desa ini lahir dari jejak perjalanan dakwah dan ketulusan seseorang yang memilih untuk menetap. Pohon pelem pun tetap menjadi simbol penting, mengingatkan generasi demi generasi bahwa pangan tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, tetapi juga sebagai jembatan persaudaraan, keramahtamahan, dan kenangan yang melekat pada suatu tempat.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.