Desa Pengatigan

URL Cerital Digital: https://desapengatigan.blogspot.com/2016/05/profil-desa.html?m=1

Di masa ketika kerajaan Islam pertama mulai berjaya di tanah Jawa, bumi Blambangan menjadi saksi pertemuan budaya, perdagangan, dan kekuasaan. Pada zaman itu hidup seorang tokoh bernama Hang Mangku Bumi yang tersohor dengan sebutan Minak Djinggo. Dalam perjalanan sejarah panjang wilayah Blambangan, banyak desa berkembang dari kebiasaan masyarakat dan kekayaan alam yang mengelilinginya. Salah satu desa yang lahir dari tradisi pangan sehari hari adalah Desa Pengatigan.

Sekitar tujuh belas kilometer ke arah selatan dari pusat Blambangan, tepat di barat Desa Rogojampi, terdapat sehamparan tanah yang subur. Di wilayah ini banyak keluarga menjalani kehidupan sederhana sebagai peternak ayam. Setiap pagi terdengar kokok ayam jantan, diikuti oleh para ibu yang memungut telur telur dari kandang. Telur ayam menjadi bagian penting dari kehidupan sehari hari, tidak hanya sebagai makanan tetapi juga sebagai sumber penghasilan.

Dalam bahasa Jawa telur disebut tigan. Karena hampir seluruh warga di wilayah itu menggantungkan kehidupan dari hasil telur ayam, maka muncullah sebutan Pengatigan yang bermakna tempat orang orang yang memiliki banyak tigan. Nama itu tidak muncul tiba tiba. Ia menjadi ungkapan harapan agar masyarakat Desa Pengatigan senantiasa memiliki tabiat baik seperti telur yang bermanfaat bagi kehidupan. Telur adalah makanan sederhana yang mampu memberi energi, membantu tumbuh kembang anak, dan menyediakan protein yang diperlukan tubuh. Masyarakat percaya bahwa sebuah desa yang namanya berakar dari sumber pangan dapat hidup makmur selama warganya pandai merawat alam dan hewannya.

Telur ayam memang menjadi sumber protein penting bagi masyarakat Pengatigan. Mereka mengolahnya menjadi aneka masakan mulai dari telur pindang, telur bumbu kecap, hingga telur asin. Dalam acara kenduri atau slametan telur menjadi hidangan wajib sebagai simbol rezeki dan kehidupan baru. Para peternak selalu menjaga ayam ayam mereka dengan penuh kesabaran karena telur yang baik lahir dari hewan yang diperlakukan dengan baik pula.

Seiring waktu wilayah Pengatigan berkembang menjadi sebuah desa resmi. Lokasi pertama yang menjadi pusatnya adalah Dusun Krajan yang kemudian disusul oleh tumbuhnya tiga dusun lain yaitu Dusun Gurit, Dusun Cangkring, dan Dusun Lugjag. Masing masing dusun memiliki cerita dan kebiasaan yang berbeda, namun semuanya tetap terikat oleh satu akar yang sama yaitu tradisi beternak ayam dan memanfaatkan telur sebagai pangan utama.

Para tokoh masyarakat, terutama sesepuh agama dan sesepuh adat, menerima nama Pengatigan dengan tangan terbuka. Mereka percaya bahwa nama yang baik dapat menjadi doa bagi masyarakatnya. Telur ayam yang bernutrisi tinggi mengandung kebaikan yang dapat membentuk tubuh dan pikiran yang sehat. Karena itu mereka berharap masyarakat Pengatigan dapat hidup dengan manfaat bagi sesamanya sebagaimana telur yang bermanfaat bagi siapa pun yang mengonsumsinya.

Dari hari ke hari ayam peliharaan berjalan bebas di halaman rumah, mematuk biji bijian atau cacing tanah. Anak anak membantu orang tua memberi makan ayam, sementara para peternak merawat kandang dengan teliti agar telur tetap bersih dan layak jual. Kehidupan yang sederhana itu ternyata menjadi kekuatan besar bagi keberlangsungan desa. Hasil telur tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga menjadi komoditas yang diperdagangkan hingga keluar wilayah desa.

Begitulah Desa Pengatigan tumbuh. Ia tidak dibangun dari istana agung atau kekayaan yang luar biasa, tetapi berawal dari telur ayam yang kecil namun penuh manfaat. Telur menyatukan masyarakat, menghidupi keluarga, dan menjadi simbol kerja keras serta ketekunan.

Kisah Desa Pengatigan mengingatkan kita bahwa pangan adalah fondasi kehidupan. Telur ayam yang sederhana mampu menjaga gizi, membentuk kesehatan, dan menjadi penopang ekonomi masyarakat. Dari pengalaman para peternak kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam harus dijaga. Hewan ternak yang diperlakukan baik akan menghasilkan pangan yang berkualitas. Telur yang mereka hasilkan adalah hasil kerja serasi antara alam dan manusia.

Nilai kearifan lokal yang terlihat dalam kisah ini mengajarkan bahwa kemakmuran tidak selalu lahir dari hal besar. Kadang sesuatu yang kecil seperti telur dapat membawa perubahan besar bagi sebuah desa. Semoga cerita Pengatigan menginspirasi kita untuk terus menjaga alam, merawat hewan, dan menghargai pangan sebagai sumber kehidupan yang tidak boleh disia siakan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.