Desa Petiken

URL Cerital Digital: https://desapetiken.gresikkab.go.id/artikel/2016/8/26/sejarah-desa#:~:text=dalam%20penulisan%20sejarah%20desa%20petiken,yang%20cukup%20bisa%20dibuktikan%20kebenarannya%20.

Di wilayah Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, terdapat sebuah desa bernama Petiken. Asal usul desa ini masih penuh simpang siur karena tidak ada catatan tertulis maupun arsip yang jelas. Sejarahnya hanya hidup dari cerita tutur yang diwariskan turun-temurun. Meski demikian, kisah para pendahulu tetap dijaga sebagai bagian penting dari identitas desa.

Konon, pada masa dahulu kawasan Petiken masih berupa hutan belukar yang dipenuhi pepohonan besar. Suasana kala itu begitu sepi, hanya suara binatang liar dan desir angin yang terdengar di antara rimbunnya dedaunan. Hingga pada suatu ketika, datanglah sekelompok orang yang bertekad membuka hutan. Mereka melakukan apa yang dalam bahasa Jawa disebut mbabat alas, yakni menebang pohon-pohon raksasa untuk menjadikan tempat itu sebagai permukiman baru.

Orang yang memimpin pembukaan hutan itu kemudian dijuluki sebagai Mbaurekso. Julukan ini bukan nama pribadi, melainkan sebutan bagi pemimpin pertama desa yang mengawal proses lahirnya pemukiman. Dari usaha kerasnya bersama penduduk awal, tanah belukar itu perlahan berubah menjadi lahan yang subur dan bisa ditanami. Hasil bumi mulai tumbuh, dari padi hingga palawija, yang menjadi penopang hidup masyarakat desa. Sejak saat itu pangan menjadi bukti keberhasilan mereka mengubah hutan menjadi tempat tinggal yang makmur.

Masyarakat percaya bahwa Mbaurekso adalah figur penting yang menjaga desa. Hingga kini, makamnya masih ada di Desa Petiken, bersebelahan dengan makam sang istri. Meski tidak diketahui pasti siapa yang memberi nama “Petiken” dan kapan desa itu resmi berdiri, kisah tentang Mbaurekso tetap hidup dalam ingatan warga.

Bagi masyarakat Petiken, pangan yang tumbuh dari tanah hasil babatan bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga simbol keberanian. Dari hutan belukar yang dahulu menakutkan, kini lahirlah lahan-lahan subur yang memberi makan banyak orang. Itulah sebabnya pangan memiliki makna yang lebih dalam di desa ini, sebagai wujud syukur atas jerih payah leluhur yang berani membuka jalan.

Cerita rakyat ini mengajarkan bahwa tanah yang subur adalah hadiah dari kerja keras, dan pangan adalah pengikat yang menjaga kehidupan bersama. Petiken bukan hanya sekadar nama desa, melainkan jejak sejarah keberanian manusia menaklukkan alam demi keberlangsungan hidup generasi penerus.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.