Desa Sekarputih

URL Cerital Digital: https://sabarbaca.blogspot.com/2018/07/sejarah-berdirinya-desa-sekarputih.html?m=1

Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sekarputih di Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, tersimpan kisah lama yang diwariskan dari mulut ke mulut oleh para sesepuh. Di antara mereka, Mbah Suparman adalah sosok yang paling sering dijadikan tempat bertanya. Sejak berusia tiga puluh tahun beliau telah mengabdi sebagai carik desa, dan pada usia enam puluh lima tahun kini, ia menjadi penjaga cerita, pelestari ingatan, dan saksi hidup sejarah Desa Sekarputih.

Menurut cerita yang beliau terima dari para pendahulu, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Sekarputih masih berupa tanah lapang yang belum bernama. Saat itu, datang sepasang suami istri yang hidupnya sederhana. Mereka dikenal dengan nama Mbah Surodipo dan Mbah Dewi Rantinah. Keduanya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Dalam perjalanan panjang mencari rumah baru, mereka beristirahat di bawah dua pohon asam besar yang tumbuh berdampingan. Dari tempat inilah awal mula Desa Sekarputih tumbuh.

Hari hari pertama mereka di wilayah itu dijalani dengan penuh kesederhanaan. Mereka makan seadanya, minum dari sumber alam, dan tidur di bawah rindangnya daun asam. Identitas mereka tidak pernah benar benar diketahui. Namun kisah tentang penampilan mereka masih diingat masyarakat hingga kini. Mbah Surodipo dikisahkan mengenakan gelang kaki, sementara Mbah Dewi Rantinah memakai baju hijau dengan jarik kawung dan kemben bermotif palang rusak. Penampilan itu begitu melekat dalam ingatan warga hingga akhirnya muncul larangan tidak tertulis agar masyarakat tidak mengenakan pakaian serupa yang dianggap dapat mengundang kejadian buruk.

Setelah beberapa hari tinggal di bawah pohon asam, pasangan itu mulai berjalan menyusuri wilayah yang kelak menjadi Desa Sekarputih. Di dekat area pemakaman, mereka menemukan sesuatu yang tampak indah dan harum. Bunga kecil berwarna putih itu dikenal sebagai bunga kantil putih. Bunga kantil muda sering digunakan masyarakat sebagai lalapan atau bahan pelengkap pangan tradisional. Meski ukurannya kecil, kantil putih memiliki aroma lembut serta rasa khas yang membuatnya dihargai dalam tradisi kuliner desa.

Bagi Mbah Surodipo dan Mbah Dewi Rantinah, bunga itu terasa istimewa. Putihnya melambangkan kesucian, harumnya memberi ketenangan, dan keberadaannya seakan menyambut mereka di tanah yang belum memiliki nama. Karena itulah mereka memutuskan untuk menamai wilayah itu sebagai Sekarputih. Kata sekar berarti bunga, dan kata putih melambangkan warna bunga kantil yang mereka temukan. Dari bunga yang sederhana itu lahirlah identitas desa yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat.

Bunga kantil putih tidak hanya menjadi simbol nama desa, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat. Bunga mudanya sering dimanfaatkan sebagai lalapan, campuran sayur, atau bahan pendukung obat tradisional. Dalam tradisi pengobatan kuno, kantil putih dipercaya mampu membantu meredakan gangguan tertentu serta memberikan manfaat untuk ketenangan tubuh. Keberadaan bunga ini menunjukkan betapa erat hubungan masyarakat Sekarputih dengan alam yang menyediakan pangan, obat, dan simbol kebudayaan.

Kisah tentang pasangan pendiri desa tidak berhenti di sana. Setelah menetap cukup lama, Mbah Surodipo dan Mbah Dewi Rantinah akhirnya meninggal dan dimakamkan di bawah dua pohon asam besar tempat mereka pertama kali beristirahat. Masyarakat setempat menjaga makam itu sebagai situs yang dihormati. Dua pohon asam yang menaungi makam menjadi saksi bisu perjalanan mereka, sekaligus bagian penting dari identitas dan kepercayaan desa.

Selain bunga kantil putih, Desa Sekarputih memiliki tradisi kesenian yang melekat kuat, yaitu Tandak Tayub. Kesenian ini disukai oleh Mbah Surodipo dan Mbah Dewi Rantinah, sehingga masyarakat menjadikannya tradisi wajib yang dilakukan setahun sekali dalam acara bersih desa. Tandak Tayub bukan sekadar hiburan, tetapi dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan agar desa tetap aman dan tentram. Kepercayaan mistis masyarakat menyebut bahwa jika Tandak Tayub tidak dilakukan, musibah dapat menimpa desa.

Pernah suatu ketika pada tahun 2008, Desa Sekarputih tidak menyelenggarakan Tandak Tayub. Dalam satu minggu, lima warga meninggal secara berurutan. Semua orang percaya bahwa kejadian itu merupakan tanda kemarahan leluhur, sehingga tradisi Tandak Tayub harus dijaga dan tidak boleh diabaikan. Setelah tradisi itu kembali dilakukan, ketentraman desa pulih seperti sediakala.

Kisah Desa Sekarputih mengingatkan kita bahwa identitas sebuah tempat tidak hanya terletak pada batas wilayah, tetapi juga pada hubungan mendalam antara manusia, alam, dan tradisi. Bunga kantil putih yang lembut telah memberi nama dan makna bagi desa. Ia menjadi simbol keindahan, kesucian, dan keberkahan yang mengalir dalam kehidupan masyarakat. Alam menyediakan pangan, obat, dan tanda tanda yang menuntun manusia untuk memahami dunia di sekitarnya.

Melalui kisah ini, pembaca dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah warisan berharga yang lahir dari hubungan erat antara manusia dengan alam. Desa Sekarputih mengajarkan bahwa keseimbangan tercipta ketika manusia memahami dan menghormati tanda tanda alam. Dari sepasang suami istri yang sederhana, dari bunga putih yang harum, dan dari dua pohon asam yang tegak berdiri, lahirlah sebuah desa yang penuh nilai, tradisi, dan pelajaran bagi generasi masa kini dan masa depan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.