Di dataran subur Kecamatan Jombang, berdirilah sebuah desa yang namanya diambil dari pohon yang pernah menaungi wilayah itu dengan rimbun dan teduh: Desa Sengon. Dahulu, tempat ini bukanlah permukiman seperti sekarang, melainkan hutan belantara yang begitu lebat. Di sana tumbuh berjajar pohon-pohon sengon menjulang tinggi ke langit, seakan hendak menutupi cahaya matahari. Di sela-sela batangnya, suara binatang buas sering terdengar, menandakan bahwa manusia jarang berani menapakkan kaki di kawasan itu.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, penduduk percaya bahwa desa ini pertama kali dibuka oleh seorang tokoh sakti bernama Syekh Ki Ageng Kumodjoyo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Jangat. Dialah sosok yang melakukan babat alas, membersihkan hutan sengon yang begitu rapat, hingga terbentuk jalan dan lahan pemukiman pertama bagi manusia. Mbah Jangat dikenal sebagai tokoh bijak yang disegani, seorang pemimpin yang tidak hanya berani menaklukkan alam, tetapi juga membawa ajaran dan nilai kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.
Petilasan Mbah Jangat masih dapat dijumpai hingga kini. Sebuah makam tua berdiri di antara pepohonan rindang di desa Sengon, dan oleh masyarakat setempat, tempat itu dianggap keramat. Banyak orang datang berziarah, berdoa, atau sekadar memanjatkan harapan di hadapan makam yang diyakini menjadi tempat peristirahatan sang pendiri desa. Sosok Mbah Jangat begitu melekat di hati warga, bukan hanya karena keberaniannya membuka hutan, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam menata kehidupan masyarakat yang baru lahir dari rimba raya.
Namun kisah tentang asal-usul Desa Sengon tidak hanya berhenti pada Mbah Jangat. Menurut sesepuh desa bernama Margiyanto, Mbah Jangat memiliki beberapa saudara yang juga berperan dalam membuka wilayah lain di sekitar Sengon. Mereka adalah Syekh Ki Ageng Walang, Syekh Ki Ageng Tawang, Syekh Ki Ageng Kumendung, Syekh Ki Ageng Sampang, dan Syekh Ki Ageng Agung. Setiap tokoh ini menandai lahirnya dusun-dusun baru yang kemudian menjadi bagian dari desa besar Sengon.
Dikisahkan bahwa Syekh Ki Ageng Walang mendirikan wilayah yang kini dikenal sebagai Sengon Kalimalang, dinamai demikian karena di akhir hayatnya beliau ditemukan meninggal dalam posisi melintang di sungai. Sementara itu, Syekh Ki Ageng Tawang bersama istrinya, Kusuma Ayu Dewi Sari, membuka daerah yang kini disebut Dusun Tawang Sari. Adapun Syekh Ki Ageng Kumendung dan Syekh Ki Ageng Sampang menjadi perintis Dusun Sengon Dukuhan, sedangkan Syekh Ki Ageng Agung mendirikan Dusun Sengon Makam Agung. Dari tangan-tangan para tokoh inilah, hutan lebat yang dahulu menakutkan menjelma menjadi desa yang ramai dan makmur.
Keberadaan pohon sengon menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sejak masa itu. Pohon ini bukan hanya memberi keteduhan, tetapi juga manfaat yang tak terhitung. Daunnya menjadi pakan ternak yang kaya protein, membantu para petani memelihara hewan peliharaan mereka dengan baik. Buahnya yang berisi biji juga dimanfaatkan menjadi makanan ringan tradisional, yang oleh sebagian masyarakat disebut kacang sengon atau cangseng. Rasanya gurih dan unik, menjadi camilan yang sering dihidangkan dalam acara desa. Selain itu, pohon sengon dikenal memiliki kemampuan menyuburkan tanah, sehingga warga biasa menanamnya berdampingan dengan tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan buah-buahan tropis.
Kini, sebagian besar hutan sengon sudah berganti menjadi ladang dan rumah penduduk, tetapi kisah tentang asal mula Desa Sengon tetap hidup di hati masyarakatnya. Setiap kali angin berhembus melewati dedaunan pohon yang masih tersisa, orang-orang percaya bahwa itu adalah bisikan leluhur mereka yang pernah membuka jalan kehidupan di tanah ini.
Pohon sengon bukan hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga simbol kearifan lokal: tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam, mengambil manfaat tanpa merusak, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian bumi. Seperti halnya pohon sengon yang terus tumbuh kembali setelah ditebang, semangat warga Desa Sengon pun tetap hidup, menumbuhkan harapan baru di tanah yang dahulu lahir dari rimba yang sunyi.