
Pada masa kolonial Belanda wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Seputih masih berupa dua dusun, yaitu Dusun Krajan dan Dusun Sumber Jeding. Kedua dusun itu berada di bawah kepemimpinan yang berbeda. Dusun Sumber Jeding dipimpin oleh Bapak Jungkodho, sementara Dusun Krajan dipimpin oleh Bapak Asbun. Kedua wilayah ini tumbuh berdampingan. Pada masa itu masyarakat mengandalkan sungai dan mata air sebagai sumber kehidupan. Air digunakan untuk keperluan sehari hari, terutama untuk mengairi sawah dan ladang. Sebagian besar penduduk menggantungkan hasil panen mereka pada aliran air yang stabil.
Pada sekitar tahun 1921 masyarakat mengalami perubahan besar. Di wilayah itu dibangun Dam Mrawan, sebuah bendungan yang bertujuan mengatur aliran air agar dapat dimanfaatkan secara lebih teratur untuk keperluan irigasi. Bendungan ini menjadi salah satu sumber air terpenting bagi masyarakat sekitar. Alirannya menghidupkan sawah sawah yang terbentang luas, memastikan pangan tetap tersedia dari hasil pertanian. Hingga kini Dam Mrawan masih berfungsi, menjadi warisan yang mengikat masyarakat dengan tradisi mengolah tanah melalui ketersediaan air irigasi.
Ketika proses pembangunan dam sedang berlangsung, terjadi sebuah peristiwa unik di Dusun Sumber Jeding yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita asal usul desa ini. Di wilayah itu terdapat sebuah mata air yang keluar dari dasar tanah di bawah sebuah pohon besar. Pohon itu rindang dan menjadi tanda alam bahwa di bawahnya terdapat aliran air yang tak pernah kering. Suatu hari warga melihat seekor kodok berwarna putih berukuran hampir sebesar dua kepal tangan bertengger di atas pohon tersebut. Tidak jauh dari sana terdapat seekor bekicot yang juga berwarna putih dan ukurannya tidak kalah besar. Kehadiran dua hewan yang tidak biasa itu membuat masyarakat heran. Mereka memperbincangkannya berhari hari, menganggapnya sebagai pertanda bahwa wilayah tersebut diberkahi oleh alam.
Selain kemunculan hewan hewan unik itu, masyarakat juga menyadari bahwa setiap pagi cahaya dari arah timur selalu tampak cerah dan berwarna putih. Fenomena itu membuat wilayah tersebut sering diasosiasikan dengan kesan putih yang lembut. Banyak warga menyebut tempat itu sebagai Siputih, terinspirasi oleh warna putih kodok dan bekicot yang muncul di sekitar sumber air. Fenomena ini semakin menguatkan ikatan masyarakat dengan alam, terutama karena mata air di bawah pohon besar tetap mengalir dan menjadi sumber air bagi kebutuhan irigasi ladang di sekelilingnya.
Seiring berjalannya waktu dan peningkatan jumlah penduduk, wilayah Dusun Krajan dan Dusun Sumber Jeding mengalami pemecahan administratif dari desa induknya, yaitu Desa Mayang dan Desa Tegalwaru. Wilayah sebelah timur memisahkan diri dari Tegalwaru, sementara wilayah sebelah barat melepaskan diri dari Mayang dengan patokan jembatan pertama Sungai Mrawan. Kedua wilayah ini kemudian digabung menjadi satu desa baru. Mengingat kejadian yang pernah menghebohkan masyarakat dan ciri khas alamnya, wilayah baru itu diberi nama Seputih. Nama ini menandai perpaduan antara dua hewan putih yang dahulu muncul di sumber air dan sinar pagi yang selalu terlihat cerah.
Desa Seputih hingga kini dikenal sebagai wilayah yang memiliki sumber air penting. Aliran dari matanya digunakan untuk irigasi, memberi kehidupan bagi sawah yang menghasilkan pangan bagi masyarakat. Kisah tentang kodok dan bekicot putih mengingatkan bahwa alam sering memberikan tanda tentang kelimpahan yang disimpannya. Air yang mengalir dari mata air bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga simbol kesejahteraan yang harus dijaga bersama.
Melalui cerita ini kita memahami bahwa hubungan masyarakat dengan alam telah terjalin sejak lama. Air yang menjadi sumber pangan melalui irigasi harus dipelihara, bukan dieksploitasi. Kearifan lokal yang menghormati fenomena alam, seperti munculnya dua hewan putih di sumber air, menjadi penanda bahwa masyarakat dulu memahami betul bahwa alam adalah bagian dari kehidupan mereka. Pesan moral yang dapat dipetik adalah perlunya menjaga kelestarian air dan lingkungan, karena dari sanalah kehidupan dan kesejahteraan masyarakat dimulai.