Di kaki Gunung Pegat, terdapat sebuah desa bernama Slempit. Asal-usul desa ini menyimpan banyak versi cerita yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meskipun terdapat beragam kisah, masyarakat setempat lebih banyak meyakini cerita yang berkaitan dengan tokoh sakti bernama Eyang Rohmo, putra Kajeng Sunan Giri.
Konon, pada masa serangan Kerajaan Majapahit, Eyang Rohmo bersama para pengikutnya berusaha bertahan dengan menyusun kekuatan di Gunung Pegat. Saat itu, banyak santri yang kehausan karena tidak ada sumber air. Melihat keadaan itu, Eyang Rohmo menancapkan tongkatnya ke tanah dengan kekuatan batin. Dari tanah kering itu tiba-tiba memancar sumber air yang deras. Air itu kemudian menjadi sumur besar yang hingga kini dikenal sebagai Sumur Gedhe.
Namun, setiap kali Eyang Rohmo hendak menancapkan tongkatnya, sabuk yang dipakainya selalu lepas. Ia harus menyelipkannya kembali berulang kali. Dari kejadian itu, ia bersabda bahwa tempat tersebut kelak dinamakan Slempit, agar generasi penerus selalu mengingat peristiwa tersebut. Gunung Pegat pun menjadi saksi bisu lahirnya nama Desa Slempit, ditandai dengan tumbuhnya dua pohon randu alas besar yang masih ada hingga sekarang.
Sejak saat itu, desa mulai tumbuh dan dipimpin oleh para keturunan santri. Sistem kepemimpinan pada masa awal dikenal unik, yaitu dengan cara gethok-gethok uwi. Dalam sistem ini, warga yang mendukung calon kepala desa berdiri di belakang orang yang mereka pilih. Dari sinilah tokoh-tokoh seperti Loko Joyo, Surti, dan Lim pernah memimpin desa dengan cara sederhana namun penuh musyawarah.
Pada masa setelah kemerdekaan, Desa Slempit dan Dusun Lingsir digabung menjadi satu kesatuan. Pemimpin pertama setelah penggabungan adalah Wagipoek. Di masa kepemimpinannya, lahirlah tradisi adat yang erat kaitannya dengan pangan, khususnya padi. Ada dua tradisi utama yang diselenggarakan setiap tahun. Pertama adalah Adat Keleman, yaitu pagelaran wayang sebagai bentuk syukur setelah padi dipanen. Kedua adalah Adat Bersih Desa atau Ruwah Deso, berupa tayuban yang dilakukan setelah padi disimpan dalam lumbung untuk menghadapi musim paceklik.
Tradisi pangan ini terus dilestarikan oleh para pemimpin berikutnya. Pada masa Kepala Desa Sapawi, kegiatan adat tersebut tetap dijaga, bahkan ketika pembangunan mulai merambah desa pada tahun-tahun berikutnya. Hingga kemudian, adat tersebut dipadatkan menjadi satu tradisi inti, yaitu Bersih Desa. Tradisi ini digelar setiap tahun setelah panen padi, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki dan barokah hasil pertanian.
Hingga kini, masyarakat Slempit masih percaya bahwa air dari Sumur Gedhe adalah berkah dari doa dan ketulusan Eyang Rohmo. Padi yang tumbuh subur di sawah mereka bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga lambang kesatuan dan rasa syukur. Tradisi Bersih Desa menjadi warisan hidup yang mengingatkan bahwa pangan adalah bagian dari hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.