Desa Tinggar

URL Cerital Digital: https://memoexpos.co/2022/07/24/nama-desa-tinggar-berasal-dari-pohon-beringin-pertarungan-pasukan-majapahit-dan-ronggolawe/

Di lereng waktu yang jauh dari hiruk pikuk modernitas, berdirilah sebuah desa yang sarat dengan sejarah dan cerita turun-temurun, desa itu bernama Tinggar. Nama Tinggar tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari sebuah pohon beringin yang luar biasa. Pohon itu berbeda dengan beringin lain yang biasa kita jumpai. Ia adalah pohon beringin jenis iprik yang menjulang tinggi, rindang, dan berakar kuat, tetapi menyimpan keanehan yang selalu memikat hati siapa pun yang mendengarnya. Separuh batang kayunya tetap hidup, menghijau subur dengan daun-daun yang rimbun, sementara separuh lainnya mati, kaku seakan menjadi penanda bahwa kehidupan dan kematian dapat berdampingan dalam satu tubuh. Karena itulah orang-orang dulu menyebutnya pohon mati sak igar, yang kemudian disingkat menjadi “Tinggar”. Dari situlah lahir nama desa ini.

Pohon beringin Tinggar bukan sekadar penanda alam. Bagi masyarakat, ia memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Daun dan akar beringin dipercaya mampu menjadi obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dari sakit perut hingga luka kecil, ramuan yang dibuat dari bagian pohon ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengetahuan pengobatan lokal. Pohon Tinggar dengan demikian tidak hanya memberi keteduhan bagi desa, tetapi juga menjaga kesehatan warganya, seakan menjadi anugerah yang tak ternilai dari alam.

Asal-usul Desa Tinggar sendiri berakar pada masa pergolakan yang melibatkan tokoh-tokoh besar tanah Jawa. Dikisahkan bahwa pasukan Ronggolawe, seorang tokoh yang pernah menentang Majapahit, melarikan diri setelah peperangan sengit. Mereka menemukan perlindungan di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Tinggar. Dari persembunyian itu, mereka perlahan membentuk komunitas baru yang kemudian berkembang menjadi masyarakat desa. Pemimpin pertama mereka dikenal dengan nama Mbah Kitul dan istrinya, Nek Tarwihah. Hingga kini, makam keduanya masih berdiri sebagai saksi bisu yang dihormati warga desa.

Waktu bergulir hingga memasuki masa pemerintahan Mataram Islam. Pada saat itu, dua orang utusan bernama Iromoyo dan Iropati datang ke desa. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan, melainkan untuk melakukan penelitian tentang Majapahit, sebuah kegiatan yang disebut tilik sandi. Di tengah penjelajahan mereka, keduanya menemukan pohon beringin besar yang unik, mati separuh hidup separuh. Pohon itu begitu memukau hingga semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa desa ini memang memiliki kekuatan sejarah dan mistis yang tak bisa diabaikan.

Keberadaan pohon Tinggar tidak hanya meninggalkan jejak nama desa, tetapi juga mewariskan filosofi. Dari pohon itu, masyarakat belajar bahwa kehidupan dan kematian, kesehatan dan sakit, semua adalah bagian dari satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Pohon ini memberi identitas, menyimpan obat bagi tubuh, sekaligus meneguhkan jiwa orang-orang Tinggar bahwa mereka adalah bagian dari sejarah besar Jawa.

Agar kisah ini tidak hilang ditelan zaman, Kepala Desa Tinggar, Mohamad Madram, berupaya melestarikan cerita asal-usul desa. Ia mendokumentasikan sejarah itu dalam sebuah buku berjudul Tinggar Merawat Sejarah yang ditulis oleh Dian Sukarno pada tahun 2020. Melalui catatan itu, generasi muda diharapkan mengenal akar mereka sendiri, memahami peran sebuah pohon beringin dalam kelahiran desa, sekaligus menjaga warisan yang begitu berharga.

Hari ini, Desa Tinggar bukan hanya tempat tinggal masyarakat, melainkan juga simbol dari perjalanan panjang sejarah. Pohon beringin yang dulu menjadi saksi bisu peperangan, pelarian, dan penelitian, kini terus hidup dalam cerita. Ia tetap memberikan manfaat melalui obat tradisional yang diwariskan turun-temurun. Sementara di bawah rimbunnya, warga desa merasakan keteduhan yang sama dengan leluhur mereka. Desa Tinggar pun terus dikenal, tidak hanya karena kisahnya yang sarat legenda, tetapi juga karena pohon beringinnya yang mengajarkan makna hidup bagi siapa saja yang singgah.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.