Desa Waung Baron

URL Cerital Digital: https://desa-waung.blogspot.com/2015/02/sejarah-desa-waung-baron-nganjuk.html?m=1

Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Waung Baron, terdapat kisah panjang tentang pengungsian, perjuangan, dan alam yang memberi petunjuk bagi manusia. Desa ini tidak hanya lahir dari perjalanan sejarah, tetapi juga dari sebuah pohon yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat masa lalu, yaitu pohon randu. Pohon yang besar, kokoh, dan memiliki banyak kegunaan, termasuk sebagai bahan obat tradisional.

Kisah bermula pada masa ketika Kerajaan Mataram dilanda peperangan. Banyak orang dari kerajaan itu terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya karena situasi tidak lagi aman. Mereka berjalan jauh, menembus hutan lebat, hingga akhirnya tiba di sebuah wilayah yang masih belum berpenghuni. Tempat itu berada pada ketinggian sekitar empat puluh meter di atas permukaan laut, dengan sumber air yang jernih mengalir di tengahnya. Air ini menjadi alasan pertama para pelarian memilih bertahan. Mereka membangun tenda, menebangi sebagian hutan, dan perlahan menetap.

Saat membabat hutan itu, mereka menemukan pohon yang belum pernah mereka kenali sebelumnya. Pohon itu besar, dengan batang kuat dan daun lebar. Menurut para pendatang, pohon itu disebut pohon waung. Dari situlah wilayah itu kemudian dinamai Waung sebagai penanda bahwa mereka hidup berdampingan dengan alam yang memberi perlindungan. Kehidupan pun berkembang, rumah rumah dibangun, lahan dikelola, dan sumber air yang mula mula ditemukan kemudian digali menjadi sebuah sumur besar. Sumur itu kini dikenal sebagai Sumur Gede, pusat kehidupan yang hingga saat ini masih menghidupi Desa Waung dan desa desa di sekitarnya. Di sekitar sumur itu tumbuh sebuah pohon beringin besar yang menaungi sumur hingga sulit terlihat dari kejauhan. Masyarakat kemudian menjadikan tempat itu sebagai punden yang dihormati dan dijaga.

Dari wilayah awal ini, Desa Waung berkembang ke berbagai arah. Ke arah selatan muncul sebuah kawasan bernama Dusun Santren, karena dahulunya terdapat pondok pesantren yang berdiri di sana. Ke arah barat, perkembangan desa melahirkan wilayah yang dahulu disebut Dusun Krandeg, tetapi kini dikenal sebagai Dusun Kandeg. Nama Kandeg memiliki sejarah tersendiri, yang berhubungan dengan pohon randu.

Di wilayan yang kini menjadi Dusun Kandeg, dahulu tumbuh sebuah pohon randu besar yang berdiri mencolok dibanding pepohonan lain. Di atasnya terdapat sarang tawon raksasa yang dikenal masyarakat sebagai tawon Gung. Karena sarang itu, banyak orang yang melintas menjadi takut dan berhenti sejenak atau bahkan kembali pulang. Dalam bahasa setempat, peristiwa berhenti tiba tiba itu disebut mandeg. Dari kebiasaan menghentikan langkah karena pohon randu dan tawonnya itulah muncul sebutan Kandeg.

Pohon randu ternyata bukan hanya membuat orang berhenti karena ketakutan. Pohon ini memiliki banyak manfaat. Biji nya dapat diolah menjadi minyak, seratnya digunakan untuk kebutuhan sehari hari, dan beberapa bagian pohonnya seperti akar atau kulit batang dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Bagi masyarakat terdahulu, pohon randu adalah anugerah, bagian dari alam yang membantu mereka bertahan hidup.

Tradisi lisan menyebut bahwa salah satu orang yang membuka hutan di wilayah Kandeg adalah Mbah Iroseno, seorang pelarian dari Mataram. Ia dan istrinya dimakamkan di kawasan itu, yang kini dikenal sebagai Punden Iroseno. Para sesepuh seperti Mbah Surodikromo dan Mbah Sanusi, generasi ketiga dari para pelarian Mataram, menjadi penjaga cerita tentang bagaimana randu, tawon Gung, dan kawasan Kandeg tidak dapat dipisahkan.

Seiring waktu, Desa Waung tumbuh semakin besar. Para pemimpinnya silih berganti, dari Mbah Sarigo pada tahun 1885 hingga ke pemimpin pemimpin setelahnya. Rumah rumah berdiri lebih rapat, sawah sawah mulai dibuka secara luas, dan aktivitas masyarakat semakin berkembang. Namun satu hal tetap sama, yaitu keberadaan alam sebagai pendukung kehidupan masyarakat. Sumur Gede tetap mengalirkan air, pohon pohon besar tetap menjadi penanda wilayah, dan tradisi leluhur tetap dijaga.

Kisah Desa Waung Baron mengajarkan bahwa sebuah desa tidak hanya terbentuk oleh manusia, tetapi juga oleh alam yang mendampingi mereka. Pohon randu yang dahulu memberi tanda, memberi rasa takut, memberi keteduhan, hingga memberi obat, adalah bagian dari jati diri masyarakat Waung. Randu menjadi simbol kehidupan yang tumbuh di antara ketakutan dan keberanian, antara pelarian dan penetapan rumah baru.

Dari kisah ini, pembaca dapat melihat bagaimana masyarakat masa lalu hidup selaras dengan alam. Mereka memberi nama pada desa dari apa yang mereka temukan, mereka membangun tempat tinggal berdasarkan sumber air, dan mereka menghargai pohon pohon yang memberi manfaat. Kearifan lokal ini mengingatkan kita bahwa alam bukan hanya latar kehidupan, tetapi sahabat yang membantu manusia bertahan dan berkembang. Desa Waung Baron adalah bukti bahwa sejarah, alam, dan manusia selalu saling terhubung dan membentuk kehidupan yang kita warisi hari ini.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.