Di ujung timur Pulau Jawa ketika rimba masih rapat dan sungai sungai mengalir tenang menuju laut, terdapat sebuah wilayah kecil di sekitar muara Sungai Setail. Wilayah itu pada masa silam dikelilingi rawa luas yang disebut blumbang oleh penduduk setempat. Di tepi blumbang itu berdiri sebuah pohon raksasa yang begitu mencolok karena warnanya tidak seperti beringin pada umumnya. Batangnya tampak pucat keputihan seolah diselimuti cahaya pagi yang tak pernah padam. Warga menyebutnya beringin putih.
Beringin putih itu menjadi penanda alam yang mudah dikenali oleh siapa saja yang melintas. Ukurannya besar, akarnya menjuntai kuat, dan dedaunannya lebat menaungi area sekitar. Burung burung datang memakan buahnya, kelelawar bergelantungan di dahan tertinggi, dan serangga berlindung di bawah naungan akarnya. Beringin putih bukan hanya pohon, melainkan pusat kehidupan kecil bagi banyak makhluk.
Buah beringin, meski jarang dikonsumsi manusia, menjadi sumber pangan penting bagi satwa liar. Di dalamnya terkandung senyawa bermanfaat seperti flavonoid, saponin, dan polifenol. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara akar akarnya yang kuat menahan tanah di sekitar rawa agar tidak hilang diterjang air. Dalam kehidupan masyarakat lama pohon beringin melambangkan perlindungan, keteduhan, dan ketahanan. Pohon beringin putih di blumbang itu adalah simbol dari semuanya.
Penduduk pada masa itu sering menyebut wilayah tersebut sebagai Wringinputih yang berarti beringin putih. Sebutan itu digunakan untuk menandai tempat, bukan sebagai nama resmi sebuah desa. Ada pula yang menyebutnya Mbabatan Wringinputih karena kawasan itu sering digunakan untuk membuka lahan atau babat alas. Meskipun demikian nama Wringinputih semakin dikenal seiring bertambahnya penduduk yang bermukim di sekitarnya.
Cerita tentang beringin putih menyebar dari mulut ke mulut. Anak anak tumbuh dengan cerita tentang pohon yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya roh penjaga alam. Para orang tua menuturkan bahwa pohon itu tidak boleh ditebang karena ia menjaga keseimbangan antara rawa dan permukiman. Ketika musim kemarau panjang melanda, beringin putih tetap hidup subur dan menyediakan buah bagi satwa yang bergantung padanya. Ketika hujan turun deras akar akarnya menjaga tanah agar tidak longsor. Semua itu membuat penduduk semakin menghormati keberadaan pohon tersebut.
Waktu berlalu dan pada tahun 1995 wilayah itu akhirnya diresmikan sebagai sebuah desa dengan nama Desa Wringinputih. Untuk menghormati sejarahnya pemerintah desa menanam sebuah pohon beringin berwarna putih tepat di depan balai desa. Pohon itu menjadi simbol identitas masyarakat sebagai pewaris kisah lama tentang beringin raksasa yang pernah tumbuh di tepi blumbang Setail.
Hingga kini warga masih merawat pohon itu dengan baik. Para petani percaya bahwa keberadaan beringin membawa kesejukan bagi tanah mereka. Burung burung yang hidup dari buahnya juga membantu menjaga keseimbangan alam dengan menyebarkan biji tanaman lainnya. Hubungan harmonis antara pohon beringin, satwa, dan manusia terus terjaga tanpa putus.
Kisah Desa Wringinputih mengajarkan bahwa pangan tidak hanya datang dari tanaman yang biasa dikonsumsi manusia. Pohon beringin memberi makan burung, mamalia, dan serangga, yang semuanya memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem. Tanpa satwa satwa itu banyak tanaman tidak akan tumbuh dan lingkungan dapat kehilangan keseimbangannya. Beringin putih menjadi pelajaran bahwa setiap elemen alam memiliki fungsi dan kontribusi bagi kehidupan.
Dari cerita ini kita belajar bahwa masyarakat dahulu memahami pentingnya merawat alam. Mereka menghargai pohon beringin sebagai sumber kehidupan meskipun mereka sendiri tidak memakan buahnya. Sikap penuh hormat itulah yang menjaga wilayah Wringinputih tetap subur hingga sekarang. Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa kearifan lokal adalah warisan berharga dan bahwa menjaga pohon, tanah, dan satwa berarti menjaga masa depan bersama.