Dusun Dungkul berada di Kabupaten Tulungagung dan memiliki kisah asal usul yang berkaitan dengan hewan serta lingkungan alam setempat.
Nama Dusun Dungkul berasal dari cerita mengenai dua orang yang sedang melakukan perjalanan melintasi wilayah tersebut. Kedua orang itu bernama Honggo dan Dremolaku, masing-masing berasal dari daerah berbeda. Honggo berasal dari Ponorogo, sementara Dremolaku berasal dari Begelin.
Saat melewati wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Dungkul, mereka melihat seekor kerbau milik penduduk setempat. Kerbau tersebut tidak memiliki tanduk. Dalam bahasa Jawa, kondisi tidak bertanduk disebut dugul. Dari kata dugul inilah kemudian wilayah tersebut dinamakan Dungkul.
Selain kisah tentang kerbau, Dusun Dungkul juga dikenal memiliki pepunden berupa pohon serut. Pohon ini memiliki cerita yang serupa dengan pepunden atau pohon wingit di Dusun Gebang.
Pohon serut tersebut dipercaya sebagai tempat yang dijaga dan dihormati oleh masyarakat terdahulu. Keberadaannya memiliki nilai sakral yang berkaitan dengan sistem kepercayaan lokal.
Masyarakat setempat dahulu merawat dan menjaga pepunden tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan penjaga wilayah. Praktik ini menjadi bagian dari tradisi dan kearifan lokal dalam menjaga harmoni lingkungan dan spiritualitas masyarakat.