Dusun Gebang di Kabupaten Tulungagung memiliki kisah penamaan yang berasal dari keberadaan pohon gebang yang tumbuh di sebuah pekarangan pada masa lampau. Konon tempat yang kemudian menjadi pemukiman ini pertama kali ditemukan oleh seseorang bernama Hamadari. Karena pada pekarangan tersebut terdapat gerombolan pohon gebang, maka wilayah itu diberi nama Dusun Gebang. Nama ini akhirnya melekat sebagai identitas lingkungan tersebut hingga sekarang.
Pohon gebang sendiri merupakan jenis tanaman yang oleh masyarakat dikenal memiliki berbagai manfaat. Sejumlah bagian dari pohon gebang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional sehingga keberadaannya tidak hanya bernilai dalam penamaan toponimi. Masyarakat melihat pohon gebang sebagai bagian dari kekayaan hayati yang turut mendukung kehidupan warga pada masa lampau maupun kini. Dengan demikian, pohon gebang tidak hanya menjadi unsur gabungan toponimi tetapi juga menyimpan nilai guna bagi kesehatan masyarakat.
Selain keberadaan pohon gebang sebagai latar penamaan, Dusun Gebang juga memiliki kisah mengenai pepunden atau pohon yang dianggap wingit. Di kawasan itu terdapat sebuah pohon besar bernama pohon klomprit. Pohon ini sejak lama dipercaya sebagai penjaga dusun atau dalam istilah Jawa disebut mbau rekso. Keberadaannya menegaskan bahwa selain unsur alam, keyakinan masyarakat terhadap roh penjaga lingkungan juga turut membentuk identitas kultural wilayah tersebut.
Pohon klomprit dipandang keramat karena diyakini sebagai tempat berteduh orang pertama yang menempati Dusun Gebang. Sosok tersebut dikenal memiliki perangai baik dan berbudi pekerti luhur. Setelah ia meninggal dunia, lokasi pepunden tersebut dirawat dengan penuh penghormatan oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Tradisi merawat tempat yang dianggap sakral ini mencerminkan rasa hormat terhadap leluhur dan nilai moral yang diwariskan.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu, pepunden sering kali menjadi pusat penghormatan dan perlindungan secara spiritual. Masyarakat setempat percaya bahwa roh orang yang semasa hidupnya berkepribadian baik masih bersemayam di tempat wingit tersebut. Keyakinan ini membuat masyarakat merawat lokasi itu agar senantiasa bersih dan terjaga. Dengan demikian, penghormatan pada pepunden menjadi bagian dari kearifan lokal yang menumbuhkan sikap hidup harmonis antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Tradisi pemujaan atau uri-uri pepunden dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan ketentraman hidup. Warga meyakini bahwa menjaga tempat sakral dapat mendatangkan berkah dan menghindarkan dari mara bahaya. Meskipun kini pandangan masyarakat telah mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, jejak tradisi ini masih dapat ditemukan dalam praktik budaya maupun cerita tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah penamaan Dusun Gebang memperlihatkan bahwa toponimi tidak hanya muncul dari penanda fisik berupa tumbuhan, tetapi juga berkelindan dengan kepercayaan, sejarah, serta tradisi masyarakat. Pohon gebang menjadi simbol sumber kehidupan dan identitas, sementara pepunden klomprit mencerminkan nilai spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. Keseluruhan cerita ini memperkaya khazanah budaya lokal Tulungagung serta menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Jawa dengan lingkungan alam dan nilai-nilai sakral yang mereka anut.