Dusun Gurit dan Dusun Cangkring

URL Cerital Digital: https://desapengatigan.blogspot.com/2016/05/profil-desa.html?m=1

Di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pengatigan, terdapat dua dusun yang namanya berasal dari kisah kehidupan masyarakatnya sendiri. Dusun Gurit dan Dusun Cangkring tumbuh dari tradisi, alam, serta kebiasaan warga yang memanfaatkan apa pun yang diberikan tanah mereka. Setiap nama yang melekat pada dusun itu menyimpan cerita panjang tentang bagaimana manusia, tanaman, dan pangan membentuk kehidupan bersama.

Menurut kisah yang diwariskan turun temurun, Dusun Gurit dahulu merupakan tempat bermukimnya masyarakat yang banyak mencari nafkah dari menjual bunga. Kebun kebun warga dipenuhi tanaman berbunga yang tumbuh subur karena tanahnya yang lembap dan kaya unsur hara. Bunga bunga itu dijual ke pasar untuk kebutuhan upacara adat, pernikahan, hingga sesaji. Selain berdagang bunga, warga Gurit juga dikenal mahir membuat kue ketan yang disebut garit oleh masyarakat setempat. Kue itu menjadi makanan khas yang selalu hadir dalam pertemuan keluarga, syukuran, dan acara adat.

Karena makanan garit begitu terkenal, lama kelamaan sebutan itu melekat pada dusun tersebut. Orang orang yang hendak berkunjung sering berkata hendak pergi ke tempat pembuat garit, dan dari situlah nama Gurit muncul. Gurit tidak hanya dikenal sebagai dusun pembuat kue ketan tetapi juga sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan warga yang selalu saling membantu dalam bertani dan berdagang.

Berbeda dengan Gurit yang dikenal karena makanan dan bunganya, Dusun Cangkring mendapatkan namanya dari keberadaan sebuah pohon yang banyak tumbuh di sana. Pohon cangkring atau dadap berdiri kokoh di tepi jalan, halaman rumah, hingga pematang sawah. Daunnya yang hijau rimbun menjadi ciri khas dusun ini. Penduduk memanfaatkannya sebagai tanaman peneduh, pagar hidup, dan yang terpenting sebagai sumber pangan tidak langsung.

Pohon cangkring memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari hari. Daunnya yang kaya protein sering digunakan sebagai pakan ternak seperti kambing dan sapi. Karena kandungan nitrogen yang tinggi, daun cangkring juga menjadi pupuk hijau yang sangat baik untuk menyuburkan tanah. Akar cangkring dapat melakukan fiksasi nitrogen sehingga lahan di sekitarnya menjadi lebih subur untuk bercocok tanam. Kadang daun mudanya direbus untuk menjadi sayur sederhana atau dijadikan lalapan, meskipun masyarakat selalu berhati hati karena bijinya bersifat beracun dan tidak boleh dikonsumsi.

Warga Dusun Cangkring memahami dengan baik bagaimana cara merawat dan memanfaatkan pohon ini tanpa merusak alam. Mereka tahu kapan harus memotong dahan untuk pakan ternak, kapan membiarkan pohon tumbuh rimbun, dan kapan mengambil daun sebagai pupuk. Kehidupan mereka sangat bergantung pada keharmonisan dengan tanaman ini. Karena jumlahnya sangat banyak di wilayah itu, masyarakat akhirnya menyebut tempat tinggal mereka sebagai Cangkring.

Baik Gurit maupun Cangkring tumbuh menjadi dusun yang memiliki identitas masing masing. Gurit dengan bunga bunganya dan kue garitnya. Cangkring dengan pohon dadap yang memberi kesuburan dan pangan bagi hewan ternak. Kedua dusun ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa Timur membangun kehidupan dengan memanfaatkan alam sekitar secara bijak.

Kisah dua dusun ini memberikan pelajaran tentang hubungan manusia dengan tanaman yang mereka rawat. Pohon cangkring yang sederhana mampu memberi dampak besar pada kelangsungan hidup masyarakat. Tanaman ini menyuburkan tanah, memberi makan ternak, dan kadang menjadi hidangan sayuran bagi manusia. Sementara Dusun Gurit menunjukkan bagaimana pangan dapat mengikat hubungan sosial, menghadirkan kebersamaan melalui kue ketan yang menjadi simbol persaudaraan.

Dari cerita Gurit dan Cangkring kita belajar bahwa pangan tidak hanya datang dari tanaman yang langsung dimakan. Ada tanaman yang berperan dalam menjaga kesuburan tanah sehingga pangan lain bisa tumbuh dengan baik. Ada juga makanan yang mempersatukan keluarga dan memperkuat budaya. Nilai kearifan lokal mengajarkan bahwa sebesar apa pun peran sebuah tanaman, semua patut dihargai karena semuanya adalah bagian dari tatanan alam yang menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Semoga kisah dua dusun ini mengingatkan kita untuk merawat alam dengan penuh tanggung jawab dan menghargai setiap tanaman yang menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Tanaman, tanah, dan manusia saling terhubung. Jika hubungan ini dijaga dengan baik, maka kesejahteraan akan lahir dari generasi ke generasi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.