
Di sebuah wilayah di Pasuruan, terdapat sebuah dusun yang namanya terinspirasi dari pohon sukun. Pohon ini bukan hanya sekadar penanda alam, melainkan juga menyimpan kisah legenda yang diwariskan turun-temurun.
Konon, pada zaman dahulu, di tengah hutan yang lebat tumbuhlah sebatang pohon sukun raksasa. Ukurannya begitu besar hingga membuat orang yang melihatnya terkagum-kagum. Tidak hanya pohonnya yang menakjubkan, di sekitar tempat itu juga pernah muncul seekor binatang yang ukurannya lebih besar daripada pohon sukun tersebut. Keanehan itu membuat kawasan ini dianggap memiliki aura magis yang berbeda dari tempat lain.
Suatu hari, datanglah seorang pertapa yang sedang menjalani laku tapa brata di hutan itu. Ketika ia sedang berdiam diri, tiba-tiba sebuah buah sukun jatuh menimpa dirinya. Buah itu tampak aneh, berbeda dengan buah pada umumnya, dan pada awalnya tidak dapat dimakan. Namun, pertapa itu tidak marah. Ia justru melihatnya sebagai pertanda.
Tak lama kemudian, hadir seorang tokoh sakti yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa. Ia berkata bahwa suatu saat nanti tempat ini akan dihuni manusia. Bila hal itu terjadi, maka dusun tersebut hendaknya dinamai Dusun Sukun, sesuai dengan pohon yang telah memberi tanda melalui buahnya. Sejak itulah nama Dusun Sukun dikenal dan digunakan hingga sekarang.
Bagi masyarakat, pohon sukun bukan hanya sekadar bagian dari cerita asal-usul. Pohon ini memberikan manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari. Buahnya dapat dijadikan makanan pokok alternatif pengganti nasi atau roti karena mengandung karbohidrat, serat, dan vitamin C. Selain itu, sukun juga dikenal tahan terhadap kondisi ekstrem, sehingga berpotensi menjadi solusi dalam meningkatkan ketahanan pangan.
Hingga kini, sukun tetap dipandang sebagai simbol kesuburan sekaligus penyelamat dalam kebutuhan pangan masyarakat. Dari kisah legenda hingga manfaat nyata yang dirasakan, pohon sukun telah mengikat sejarah dan kehidupan warga Dusun Sukun di Pasuruan.