
Dalam perjalanan panjang yang ditempuh oleh Aryo Blater dan para pengawalnya melintasi wilayah Sabrang, mereka kembali menghadapi rintangan yang tidak mudah. Setelah melewati sungai dan hutan lebat, rombongan itu tiba di sebuah kawasan yang tampak sunyi. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba tiba segerombolan perompak muncul dan menghadang perjalanan mereka. Perompak itu dikenal berbahaya dan sering menyerang rombongan pedagang yang lewat. Dengan tujuan menguasai wilayah dan merampas barang berharga, mereka mengira rombongan Aryo Blater akan mudah dikalahkan.
Namun Aryo Blater bukan orang biasa. Ia memiliki ketangkasan yang membuat para pengawal patuh dan para lawan gentar. Dengan kesaktiannya ia berhasil melumpuhkan para perompak satu per satu. Dalam pertempuran itu Aryo Blater memanfaatkan apa pun yang ada di sekitarnya, termasuk tanaman perdu yang tumbuh liar bernama krangkong. Batang krangkong memiliki serat yang jika digosok dapat menghasilkan buih tebal. Dalam tradisi masyarakat, beberapa bagian tanaman ini digunakan sebagai bahan obat sederhana, seperti untuk membersihkan luka atau meredakan gatal. Aryo Blater mengolah batang krangkong tersebut menjadi buih yang kemudian digunakan untuk mengacaukan pandangan para perompak, hingga mereka tidak lagi mampu melawan.
Setelah perompak itu dikalahkan, Aryo Blater melihat tempat itu sebagai lokasi yang kelak akan berkembang menjadi permukiman. Ia lalu berkata kepada para pengawalnya bahwa jika pada masa mendatang tempat ini berkembang, ia akan menamainya Krangkengan, terinspirasi dari batang krangkong yang membantu menyelamatkan perjalanan mereka. Nama itu kemudian berubah seiring waktu dan dialihkan menjadi Tegalrejo, salah satu dusun di wilayah Desa Sabrang saat ini. Namun sejarahnya tetap hidup dalam ingatan tentang tanaman perdu yang pernah menjadi penyelamat.
Cerita tentang Dusun Tegalrejo memiliki hubungan erat dengan pemanfaatan tumbuhan lokal. Batang krangkong yang digunakan Aryo Blater bukanlah tumbuhan sembarangan. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai bahan obat sederhana. Masyarakat menggunakan batang atau daunnya untuk membersihkan kulit, mengobati luka ringan, atau mengurangi rasa gatal. Tanaman ini menunjukkan bahwa alam sekitar menyediakan banyak jenis tumbuhan dengan kegunaan yang beragam. Mereka hanya perlu mengetahui bagaimana cara memanfaatkannya dengan bijaksana.
Kisah perjalanan Aryo Blater juga menegaskan bahwa masyarakat dahulu sangat peka terhadap tanda tanda alam dan mengenal berbagai fungsi tumbuhan. Mereka memanfaatkan tanaman yang ada di sekitarnya tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai obat untuk menjaga kesehatan. Pengetahuan ini diwariskan turun temurun dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang sangat berharga.
Melalui kisah ini kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam adalah hubungan timbal balik. Alam menyediakan kebutuhan manusia, mulai dari pangan hingga obat obatan alami. Namun manusia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari. Tanaman seperti krangkong menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar atau megah, tetapi dapat muncul dari tumbuhan kecil yang tumbuh di sudut hutan.
Dengan demikian cerita Dusun Tegalrejo memperlihatkan nilai nilai ketangguhan, kreativitas, dan pemahaman mendalam tentang alam. Pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa alam harus dihormati, dilestarikan, dan digunakan dengan bijak. Karena melalui alam, manusia tidak hanya menemukan kekuatan untuk bertahan hidup, tetapi juga menemukan identitas dan sejarah yang membentuk mereka hingga hari ini.