Jaka Plontang

URL Cerital Digital: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bapala/article/view/19110/17447

Di lereng perbukitan Rejotangan, Tulungagung, mengalir sebuah sumber air yang dipercaya masyarakat sebagai anugerah dari kisah kelam kakak beradik yang terjerat takdir. Air itu tidak hanya jernih dan sejuk, tetapi juga menjadi urat nadi bagi lahan pertanian sekitar. Sawah sawah hijau yang menghampar luas mendapat kehidupan dari aliran air tersebut. Dari sinilah padi yang menjadi makanan pokok masyarakat setempat dapat tumbuh subur. Para petani meyakini bahwa keberkahan air itu terhubung dengan kisah Jaka Plontang dan Jaka Kandung, dua pemuda yang lahir dari rahim ibu yang sama, namun berbeda ayah.

Alkisah, hiduplah Ki Ageng Sengguruh, seorang tokoh terpandang dan disegani di Rejotangan. Ia memiliki seorang putra bernama Jaka Plontang. Sementara dari pernikahan sebelumnya, ibunda Jaka Plontang telah memiliki seorang anak bernama Jaka Kandung. Kedua pemuda ini sebenarnya terikat oleh darah ibu yang sama, meskipun tumbuh dalam lingkungan dan didikan yang berbeda. Namun nasib mempertemukan mereka dalam keadaan yang tidak bahagia. Jaka Kandung yang lama berpisah dari ibunya, tumbuh menjadi pemuda kuat, gagah dan memiliki kemampuan silat jauh di atas rata rata. Kepergiannya dari rumah membuatnya tidak mengetahui peristiwa peristiwa kelam yang terjadi di tanah kelahirannya.

Pada suatu masa, terjadi konflik yang melibatkan Ki Ageng Sengguruh. Peristiwa itu memicu dendam dalam hati Jaka Plontang. Ia yakin bahwa kakak tirinya, Jaka Kandung, menjadi penyebab kematian ayahnya. Dengan amarah yang membara, Jaka Plontang bersumpah mencari Jaka Kandung untuk menuntut balas atas kematian sang ayah.

Pertemuan keduanya tidak berlangsung dalam kedamaian. Di tepi hutan dekat kawasan sumber air, keduanya beradu tenaga. Suasana pertarungan sangat mencekam. Jaka Plontang mengeluarkan seluruh kemampuannya dan bertarung dengan keberanian luar biasa. Gerakan silatnya cepat, tajam dan penuh emosi. Namun kemampuan bela dirinya tidak sebanding dengan kekuatan dan ketenangan Jaka Kandung. Di tengah pertarungan sengit itu, Jaka Kandung sebenarnya menahan diri. Ia masih memandang Plontang sebagai adiknya. Ia tidak ingin merenggut nyawa saudara seibu dengannya. Tetapi keadaan memaksanya. Untuk menghindari kekacauan yang lebih besar dan mempertahankan diri, Jaka Kandung akhirnya terpaksa mengakhiri nyawa Jaka Plontang.

Dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, Jaka Kandung memakamkan adiknya di sisi makam Ki Ageng Sengguruh di Rejotangan. Masyarakat percaya bahwa dari tanah makam inilah kemudian muncul sumber mata air yang tidak pernah kering, meski musim kemarau melanda. Sumber air itu mengalir ke persawahan warga dan menjadi sumber penghidupan. Oleh sebab itu, masyarakat setempat menghormatinya sebagai air berkah yang membawa manfaat bagi pangan dan kehidupan. Air tersebut menjadi tumpuan irigasi yang mengaliri sawah sawah di sekitarnya, menjamin keberlangsungan panen dan ketahanan pangan warga.

Setelah peristiwa tragis itu, Jaka Kandung melangkah menuju kediaman Adipati untuk menjemput ibunya. Ibunya tidak mengetahui tragedi yang menimpa suami dan anaknya. Ketika melihat putranya yang telah tumbuh menjadi pemuda gagah, ia merasa sangat bahagia. Cinta seorang ibu menyambut Jaka Kandung dengan pelukan, tanpa mengetahui luka batin yang dibawa dalam hatinya.

Sejak saat itu, masyarakat Rejotangan tidak hanya mengenang kisah tragis kakak beradik ini sebagai legenda. Mereka juga memaknai sumber air yang muncul di sekitar makam Ki Ageng Sengguruh sebagai simbol pengingat. Air itu menjadi tanda bahwa dendam hanya membawa luka, namun dari penyesalan dapat muncul kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Kini, para petani Tulungagung masih menggantungkan irigasi sawah pada aliran air tersebut. Setiap bulir padi yang tumbuh dianggap sebagai anugerah yang tidak lepas dari sejarah Jaka Plontang. Tradisi setempat menghimbau masyarakat agar selalu menjaga sumber air, menghormati leluhur dan menjauhi permusuhan demi keberkahan pangan.

Dengan demikian, legenda Jaka Plontang tidak hanya menyimpan nilai moral tentang keluarga dan penyesalan, tetapi juga mengajarkan bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga. Sebab dari air, tumbuh pangan. Dari pangan, lahirlah kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.