
Di tanah Blitar yang subur dan bersejarah, suara kendang dan gamelan kerap terdengar menggema di malam hari. Irama itu mengiringi gerak lincah para penari yang menunggang kuda anyaman berwarna-warni, dengan langkah gagah dan mata tajam penuh semangat. Itulah Jaranan Mataraman, sebuah kesenian rakyat yang telah hidup berabad-abad di tengah masyarakat Blitar, menjadi simbol keberanian, kejujuran, dan keselarasan manusia dengan alam.
Namun, di balik gemerlap tarian dan bunyi gamelan, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul dan makna mendalam dari kesenian ini. Pada masa lampau, ketika tanah Jawa masih berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial, rakyat kecil dilarang menunggang kuda. Bagi penjajah, kuda adalah simbol kekuasaan dan kehormatan. Siapa pun dari kalangan rakyat biasa yang berani menunggang kuda akan dianggap menantang sistem sosial yang diciptakan Belanda.
Dalam situasi penuh tekanan itu, masyarakat tidak kehilangan cara untuk menyalurkan semangat perlawanan mereka. Mereka menciptakan bentuk kesenian baru yang disebut jaranan, di mana para penari menunggang kuda tiruan dari anyaman bambu. Mereka menari dengan penuh semangat seperti prajurit di medan perang, tetapi tanpa benar-benar menunggang kuda sungguhan. Melalui kesenian ini, rakyat menyamarkan semangat perjuangan mereka dalam bentuk tari dan musik, sehingga tidak dicurigai oleh penjajah.
Seiring waktu, kesenian jaranan berkembang dan memperoleh bentuk khas di Blitar yang dikenal dengan nama Jaranan Mataraman. Berbeda dari jaranan lain yang mengangkat cerita Panji, Jaranan Mataraman lebih menonjolkan kekuatan gerak dan semangat prajurit. Setiap langkah kaki penarinya menggambarkan latihan perang para prajurit Mataram yang gagah berani. Tetapi seiring perkembangan zaman, maknanya meluas. Ia tidak lagi hanya menceritakan peperangan, melainkan juga menjadi lambang kedisiplinan, keharmonisan, dan penghormatan terhadap alam.
Kuda yang menjadi simbol utama dalam kesenian ini bukan hanya lambang keberanian, tetapi juga sumber kehidupan. Di masa lalu, masyarakat Jawa Timur sangat bergantung pada kuda sebagai hewan pekerja. Kuda membantu membajak sawah, menarik gerobak, dan menjadi sarana transportasi penting. Meski kadang susunya atau dagingnya dimanfaatkan, tenaga kuda jauh lebih bernilai karena menjadi penggerak kehidupan sehari-hari. Dalam Jaranan Mataraman, penghormatan terhadap hewan ini tergambar melalui gerak tari yang kuat dan anggun sekaligus, seolah menegaskan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan timbal balik yang harus dijaga.
Kesenian ini juga mengandung nilai spiritual yang dalam. Di Dusun Sanan, tempat Jaranan Mataraman tumbuh dan berkembang, kepercayaan lama yang berpadu dengan ajaran abangan masih terasa kuat. Pertunjukan jaranan sering kali dibuka dengan ritual doa dan sesaji berupa hasil bumi, seperti padi, buah, dan air dari sumber setempat. Ritual ini dilakukan untuk menghormati roh leluhur serta memohon keselamatan bagi para pemain dan penonton. Di sinilah terlihat hubungan erat antara kesenian, alam, dan pangan: tanah yang menumbuhkan padi, air yang menyuburkan kehidupan, serta hewan yang membantu manusia bekerja. Semua unsur alam mendapat tempat terhormat dalam pertunjukan jaranan.
Selain mengandung unsur mistis dan sakral, Jaranan Mataraman juga berfungsi sebagai pengikat sosial. Dalam setiap pementasan, masyarakat berkumpul tanpa membeda-bedakan status sosial. Semua ikut serta: anak-anak, orang tua, hingga tetua desa. Gamelan berdentum, penari menari gagah, dan masyarakat bersorak dalam kegembiraan yang menyatukan mereka. Jaranan menjadi ruang bagi masyarakat Blitar untuk memperkuat rasa kebersamaan, sebagaimana kuda yang menjadi simbol gotong royong dan kekuatan bersama.
Kini, kesenian Jaranan Mataraman telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah. Tetapi bagi masyarakat Blitar, penghargaan itu hanyalah pengingat. Yang terpenting adalah menjaga makna di dalamnya: nilai kejujuran, kerja keras, dan penghormatan terhadap alam yang memberi kehidupan.
Ketika malam tiba dan tabuhan kendang mulai terdengar di kejauhan, seolah waktu kembali berputar. Para penari mulai menunggang kuda anyaman bambu, menggambarkan semangat leluhur yang pantang menyerah. Dalam setiap hentakan kaki dan gerak kepala kuda, tersimpan doa agar bumi tetap subur, air tetap jernih, dan manusia tak lupa berterima kasih pada alam yang telah memberi makan dan kehidupan.