Jokowono

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di sebuah sudut Madiun, tepatnya di Desa Bongsopotro, tersimpan sebuah kisah lama yang masih dikenang masyarakat hingga kini. Cerita ini berawal dari seorang laki-laki sederhana yang hidup menyendiri di tengah hutan. Tidak banyak orang yang tahu namanya, karena ia lebih sering digambarkan sebagai sosok pengembara yang menjauh dari keramaian.

Pada suatu hari, laki-laki itu memanjat pohon besar untuk mengambil sarang lebah. Sarang lebah bukan hanya menjadi sumber makanan, tetapi juga bahan olahan yang bermanfaat sebagai obat bagi masyarakat setempat. Lebah dan hasilnya sejak lama dihargai karena memberi kekuatan, kesembuhan, serta penopang kehidupan di pedesaan.

Namun, malang tak dapat ditolak. Entah karena terjatuh setelah tersengat lebah, atau sebab lain yang tidak diketahui, laki-laki itu meninggal di bawah pohon yang ia panjat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di tempat itu. Awalnya makam tersebut tidak bernama, hanya sebuah tanda sederhana di bawah pohon. Lama-kelamaan, masyarakat menyebutnya sebagai makam Jokowono.

Cerita ini berkembang seiring waktu. Nama Jokowono dianggap kurang pantas untuk sosok yang dipercaya berjasa bagi desa. Maka, kemudian muncul versi lain yang menyebutkan bahwa nama aslinya adalah Kyai Ageng Said Maulana Joko Lelono, seorang pengembara yang memiliki darah keraton dari Jawa Tengah. Dalam tradisi Jawa, kata lelono memang berarti pengembara. Tokoh ini kemudian dipandang bukan sekadar laki-laki biasa, melainkan pembabad desa yang membawa peradaban ke Bongsopotro.

Hingga kini, Punden Joko Lelono di Madiun menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap tahun, warga mengadakan tradisi nyadran dan bersih desa di sana. Punden ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang pengembara, melainkan simbol hubungan masyarakat dengan leluhur serta alam. Lebah, yang dahulu menjadi sebab kisah ini bermula, tetap dikenang sebagai pangan yang bernilai tinggi. Selain sebagai sumber madu yang manis dan bergizi, lebah juga melambangkan keseimbangan antara manusia dan alam.

Cerita rakyat tentang Jokowono mengajarkan bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan jasmani. Sarang lebah, dengan segala manfaatnya, menjadi penghubung antara sejarah, kehidupan, dan kearifan lokal. Dari kisah seorang pengembara yang jatuh di hutan, lahirlah sebuah tradisi yang terus hidup di hati masyarakat Madiun.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.