
Di ujung barat Kota Surabaya, ada sebuah tempat yang seakan berhenti dalam waktu. Namanya Kampung Made. Saat angin berhembus lembut melewati hamparan sawah hijau, suara burung bersahutan di kejauhan, dan sinar matahari pagi menari di permukaan air irigasi, siapa pun yang datang ke sana akan merasa seolah berada di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Padahal, hanya beberapa kilometer dari situ berdiri bangunan modern, jalan raya besar, dan kesibukan metropolitan Surabaya.
Kampung Made terletak di Kecamatan Sambikerep, di perbatasan antara Surabaya dan Gresik. Luasnya mencapai lebih dari empat ratus hektare, sebagian besar dulunya adalah lahan pertanian yang subur. Di sanalah padi tumbuh dengan megah, berdiri tegak di atas tanah yang seolah masih setia menjaga napas agraris di tengah kota yang semakin padat. Penduduk setempat telah turun-temurun menjadi petani, menggantungkan hidup pada air, lumpur, dan matahari—sebuah keseimbangan alami yang perlahan mulai tergerus oleh laju pembangunan.
Salah satu sosok yang menjadi penjaga ingatan tentang masa lalu Kampung Made adalah seorang sesepuh bernama Mbah Seniman, atau akrab disapa Mbah Man. Usianya telah lebih dari delapan puluh tahun, namun tubuhnya masih tegap dan langkahnya ringan. Rambut putihnya berkilau di bawah cahaya pagi, matanya masih tajam, dan suaranya tenang seperti orang yang telah lama berdamai dengan waktu. Setiap kali ada tamu datang ke rumahnya, ia akan menyambut dengan senyum ramah, mengenakan jas koko putih, sarung hijau, dan kopiah hitam yang menjadi ciri khasnya.
Di ruang tamunya yang sederhana, terdapat sebuah kursi kayu tua dan tumpukan buku catatan berisi tulisan tangan yang telah menguning. Di dalamnya tersimpan berbagai kisah tentang desa, dari sejarah sawah yang pertama dibuka, tradisi panen, hingga perubahan yang terjadi seiring masuknya zaman baru. “Aku wis tuwo, makane tak catet ben gak lali,” katanya suatu hari, sembari membalik halaman bukunya yang penuh coretan. Aku sudah tua, jadi kutulis supaya tidak lupa.
Menurut Mbah Man, dahulu Kampung Made hanyalah hamparan sawah dan kebun yang luas. Setiap pagi, penduduk keluar membawa cangkul dan anyaman bambu, menanam padi, memanen, atau menjemur hasil panen di jalan tanah yang membelah desa. Saat musim panen tiba, suasana kampung penuh dengan tawa, suara lesung bertalu-talu, dan aroma gabah yang kering di bawah matahari. Padi bukan sekadar tanaman pangan bagi mereka, tetapi juga simbol kehidupan, rezeki, dan kebersamaan. Dari padi, mereka membuat nasi, bubur, ketupat, dan berbagai hidangan yang selalu hadir di setiap upacara adat dan perayaan desa.
Namun, seiring berkembangnya kota Surabaya ke arah barat, sawah-sawah mulai terdesak. Lahan hijau berganti dengan perumahan dan jalan besar. Beberapa petani beralih profesi, sementara sebagian lain tetap bertahan, menjaga sisa tanah yang masih bisa ditanami. “Made iki durung ilang, durung tak pasrahke karo beton,” ujar Mbah Man dengan tegas. Made ini belum hilang, belum kurelakan pada beton.
Kini, di antara gedung-gedung dan jalan raya, masih tersisa petak-petak sawah yang bertahan di Kampung Made. Di pagi hari, petani masih turun ke ladang dengan caping menutupi wajah, menyiangi rumput, dan memeriksa air irigasi yang mengalir dari saluran lama. Mereka sadar, sawah itu bukan hanya sumber pangan, tetapi juga warisan hidup yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Air yang mengalir di pematang, lumpur yang menempel di kaki, dan butir padi yang menguning adalah simbol ketekunan dan cinta mereka pada tanah.
Keindahan Kampung Made bukan hanya pada hijaunya persawahan, tetapi juga pada keteguhan masyarakatnya dalam menjaga harmoni dengan alam. Mereka tidak menolak kemajuan, tetapi juga tidak ingin kehilangan jati diri sebagai penjaga tanah yang memberi makan kota. Saat senja datang, dan langit mulai oranye di atas hamparan padi, suara jangkrik dan desir angin menjadi saksi bahwa di Surabaya yang serba cepat ini, masih ada tempat yang berjalan perlahan, mengikuti irama alam.
Kampung Made bukan sekadar sebuah wilayah di peta Surabaya. Ia adalah kisah ketahanan dan kesetiaan pada bumi. Ia mengajarkan bahwa pangan bukan hanya hasil dari teknologi, tetapi juga dari tangan-tangan yang sabar dan hati yang menghargai tanah. Dalam setiap butir beras yang lahir dari sawah Made, tersimpan doa agar keseimbangan antara manusia dan alam tetap terjaga.