Di tanah tinggi Tengger, di kaki Gunung Bromo yang dikelilingi lautan pasir, hiduplah masyarakat yang sejak dahulu menjunjung tinggi tradisi. Salah satu upacara paling sakral yang mereka laksanakan adalah Upacara Kasada. Upacara ini digelar sekali dalam setahun, tepat pada bulan purnama di bulan Kasada, bulan kedua belas dalam penanggalan Saka. Bagi masyarakat Tengger, Kasada bukan hanya pesta adat, tetapi juga Hari Raya Kurban yang menjadi wujud syukur kepada Sang Hyang Widi serta penghormatan kepada leluhur.
Beberapa hari sebelum puncak perayaan, desa-desa Tengger sudah semarak. Tenda pameran berdiri di lapangan, suara gamelan berpadu dengan tawa anak-anak yang menonton tari-tarian. Di lautan pasir, kuda-kuda berlari kencang dalam balapan yang menguji keberanian. Ada pula jalan santai yang mempertemukan warga dari berbagai penjuru. Semua ini menjadi pembuka jalan menuju malam penuh doa dan persembahan.
Ketika fajar menyingsing, suasana berubah hening dan khidmat. Pada pukul lima pagi, para pendeta dari tiap desa memimpin rombongan untuk mendaki Gunung Bromo. Di punggung mereka tergendong ongkek, wadah besar berisi sesaji. Ongkek itu penuh dengan hasil bumi berupa sayuran segar, buah-buahan, padi, dan jagung. Ada pula ayam, kambing, serta olahan pangan tradisional yang disiapkan dengan hati-hati. Semua itu dipersembahkan sebagai kurban suci, doa agar bumi tetap subur, panen berlimpah, serta keluarga terhindar dari mara bahaya.
Sesampainya di bibir kawah Bromo, pendeta berdiri paling depan. Dengan lantunan doa yang menggetarkan jiwa, ia melemparkan ongkek pertama ke dalam kawah. Asap kawah menyambut sesaji itu, seolah bumi menerima persembahan dari anak-anaknya. Setelah itu, masyarakat satu per satu mengikuti, melemparkan sesaji mereka dengan penuh pengharapan.
Pangan dalam upacara Kasada bukan sekadar makanan biasa. Ia menjadi sarana penghubung manusia dengan Sang Pencipta. Setiap butir padi yang dilempar ke kawah mengandung doa agar sawah tetap hijau. Setiap sayur dan buah yang melayang ke dalam kawah adalah ungkapan syukur atas kesuburan tanah Tengger. Setiap ayam dan kambing yang dijadikan sesaji adalah wujud pengorbanan demi keselamatan bersama.
Tradisi ini terus berlangsung hingga kini, diwariskan dari generasi ke generasi. Upacara Kasada mengajarkan bahwa pangan tidak hanya memberi kehidupan jasmani, tetapi juga kehidupan rohani. Melalui pangan, manusia belajar untuk berbagi, bersyukur, dan menghormati alam semesta.
Maka, setiap tahun ketika purnama bersinar terang di langit Tengger, masyarakat kembali berkumpul di Gunung Bromo. Mereka menari, berdoa, dan melempar sesaji, menyatukan diri dengan alam dan leluhur dalam upacara agung bernama Kasada.