
Pada masa setelah berakhirnya Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, banyak pengikut sang pangeran yang melarikan diri untuk menghindari penangkapan oleh pasukan Belanda. Di antara mereka, ada seorang pengikut setia bernama Mbah Abdul Jamal, seorang ulama yang bijak dan berilmu tinggi. Setelah perjalanan panjang melewati hutan dan perbukitan, akhirnya ia tiba di tanah Blitar, sebuah daerah yang kala itu masih sepi dan jauh dari pengawasan penjajah.
Di Blitar, Mbah Abdul Jamal bertemu dengan seorang tokoh setempat bernama Mbah Diposari. Keduanya segera menjalin persahabatan karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menyebarkan ajaran Islam dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang damai dan berilmu. Bersama, mereka kemudian mendirikan sebuah pesantren di wilayah yang kini dikenal sebagai Angatren, tempat yang tenang di tengah alam yang subur.
Pesantren itu menjadi pusat pembelajaran agama dan kehidupan spiritual. Santri datang dari berbagai daerah, membawa tikar, kitab, dan semangat untuk menimba ilmu. Di siang hari mereka belajar membaca Al-Qur’an dan ilmu fiqih, sementara di malam hari mereka berzikir di bawah temaram lampu minyak. Suasana pesantren selalu dipenuhi ketenangan dan kedamaian.
Namun, seiring berjalannya waktu, tidak semua santri menunjukkan kesungguhan yang sama. Sebagian di antara mereka mulai malas, lebih sering bercanda dan bermain daripada belajar. Mbah Abdul Jamal, yang dikenal tegas namun penyayang, menegur mereka dengan kalimat yang kemudian menjadi legenda di kalangan masyarakat sekitar. Dengan nada lembut namun penuh makna, beliau berkata,
“Lek nyantri tanggung-tanggung, mbadut o ae. Yen wes rampung mbadut, menyang njedingo adus terus nyembah Allah SWT.”
Yang berarti, “Kalau belajar tidak sungguh-sungguh, lebih baik bermain saja. Setelah selesai bermain, pergilah ke sumber air, mandi, dan beribadah kepada Allah SWT.”
Kalimat itu bukan sekadar teguran, melainkan nasihat penuh kearifan. Bagi Mbah Abdul Jamal, ilmu tidak hanya harus dipelajari dengan tekun, tetapi juga disertai penyucian diri, baik secara lahir maupun batin. Menurutnya, air bukan hanya untuk menghilangkan kotoran tubuh, tetapi juga sarana untuk menenangkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dari nasihat itu pula, muncullah tiga nama tempat di sekitar wilayah pesantren: Tanggung, Badut, dan Santren. “Tanggung” berasal dari kata tanggung-tanggung, menggambarkan keteguhan dan keberanian untuk mengambil keputusan. “Badut” bukan berarti pelawak seperti yang dikenal sekarang, melainkan simbol kerendahan hati dan keceriaan dalam belajar. Sementara “Santren” diambil dari kata “pesantren”, sebagai penanda tempat yang menjadi pusat spiritual dan pendidikan.
Tak jauh dari tempat berdirinya pesantren, terdapat sebuah sumber air alami yang jernih dan sejuk. Konon, sumber itu ditemukan oleh Mbah Abdul Jamal ketika sedang mencari tempat untuk berwudu dan mandi. Beliau menggali tanah dengan tongkatnya, dan tiba-tiba air memancar keluar, mengalir deras hingga membentuk kolam kecil. Sejak saat itu, sumber air itu menjadi tempat penyucian diri bagi para santri dan warga sekitar. Banyak yang percaya bahwa air dari sumber tersebut memiliki khasiat menenangkan pikiran dan menyembuhkan penyakit ringan.
Air itu tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau. Setiap pagi, para santri mandi dan mengambil air dari sana untuk memasak, sementara warga datang untuk mengambil air minum. Hingga kini, sumber air itu masih dijaga kesuciannya dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Angatren. Ia menjadi sumber minum, tempat bersuci, dan simbol kesucian batin yang diajarkan oleh Mbah Abdul Jamal.
Dalam waktu yang lama, pesantren Mbah Abdul Jamal tumbuh menjadi pusat ilmu dan kebijaksanaan. Dari tempat itu, banyak ulama dan tokoh masyarakat lahir dan melanjutkan perjuangan beliau dalam membimbing umat. Masyarakat Angatren hingga kini masih menghormati sosoknya, menyebutnya dengan gelar kehormatan Ki Agung Adi Angatren, sebagai tanda rasa hormat atas jasa dan ilmunya yang telah menumbuhkan kehidupan spiritual dan kebersamaan di Blitar.
Kini, di tengah modernitas, kisah Ki Agung Adi Angatren tetap hidup dalam ingatan warga. Mereka percaya bahwa air suci di Angatren adalah warisan spiritual yang harus dijaga, bukan hanya sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya keseimbangan antara ilmu, ibadah, dan kemurnian hati.
Di setiap tetes air yang mengalir dari sumber itu, seolah masih terdengar pesan lembut sang guru: “Sebelum menuntut ilmu, sucikanlah diri. Sebelum bicara, beningkanlah hati. Karena dari air yang jernih, tumbuhlah kehidupan yang baik.”