Di suatu masa yang jauh di masa lampau, ketika alam masih bersih dan tenang, hiduplah seorang alim bernama Kiai Abdullah. Beliau adalah sosok yang penuh kebijaksanaan dan ketulusan hati. Dalam pengembaraannya untuk mencari tempat yang tenang guna mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Kiai Abdullah menapaki jalan setapak yang membelah hutan kecil dan mengikuti aliran sungai yang jernih di kawasan Sumenep, Jawa Timur.
Perjalanannya membawanya pada sebuah tempat yang menakjubkan. Di tengah aliran sungai yang berair bening, terhampar sebuah batu besar berukuran sekitar dua puluh meter persegi. Permukaannya halus, datar, dan teduh karena naungan pepohonan di sekitarnya. Kiai Abdullah merasakan ketenangan yang luar biasa begitu menjejakkan kaki di atas batu itu. Suara gemericik air sungai mengalun lembut, berpadu dengan semilir angin yang menyentuh kulitnya dengan sejuk. Saat itu juga, hatinya seolah berbisik bahwa tempat tersebut bukan sembarang tempat, melainkan anugerah Tuhan bagi mereka yang ingin menenangkan jiwa.
Ia pun duduk bersila, memejamkan mata, dan meresapi kedamaian yang hadir. Dalam keheningan itu, pikirannya tertuju kepada Sang Pencipta. Dengan penuh ketulusan, Kiai Abdullah mengambil air wudhu dari sungai yang mengalir tenang, lalu menunaikan shalat di atas batu besar itu. Gerakan dan doanya berpadu dengan irama alam, seakan langit, air, dan pepohonan ikut bertasbih bersamanya. Setelah selesai beribadah, hatinya mantap untuk menetap di tempat tersebut. Di sanalah ia memulai kehidupannya sebagai penyebar ajaran Islam dan penjaga harmoni antara manusia dan alam.
Hari demi hari, tempat itu menjadi saksi kehidupan sederhana Kiai Abdullah. Ia membangun gubuk kecil di tepi sungai dan menanam berbagai jenis tanaman pangan di sekitarnya. Ia menanam padi di sawah kecil, ubi di ladang kering, serta kelapa dan pisang di pinggiran sungai. Tanaman-tanaman itu tumbuh subur karena tanah di sekitar batu besar itu sangat subur dan mendapat pasokan air yang cukup.
Masyarakat sekitar yang kemudian berdatangan untuk berguru kepadanya mulai meniru cara hidup Kiai Abdullah. Mereka belajar bertani dengan cara menghormati alam: tidak menebang pohon sembarangan, tidak mengotori sungai, dan selalu mengucap doa sebelum menanam atau memanen hasil bumi. Hasil panen seperti beras, singkong, dan pisang digunakan tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk tasyakuran sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
Dari waktu ke waktu, tempat itu dikenal dengan nama Batu Kedamaian, karena banyak orang yang datang untuk mencari ketenangan batin. Batu itu menjadi simbol keseimbangan antara ibadah dan kehidupan, antara manusia dan alam. Hingga kini, masyarakat di sekitar daerah tersebut masih menjaga tradisi makan bersama hasil bumi di sekitar sungai setiap kali panen raya tiba. Hidangan sederhana seperti nasi jagung, sayur kelor, dan sambal kelapa muda menjadi lambang rasa syukur dan kebersamaan.