Di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik, terdapat sebuah dusun besar yang bernama Sumur Songo. Nama dusun ini berasal dari sebuah legenda yang masih diceritakan turun-temurun, tentang seorang perempuan cantik dan berwibawa bernama Nyai Ageng Tumengkang Sari. Ia bukan perempuan biasa. Nyai Tumengkang Sari adalah cucu dari Sunan Giri melalui Sunan Wruju, sehingga wajar bila ia disegani oleh masyarakat Gresik.
Parasnya begitu rupawan hingga kabarnya seorang pangeran dari Majapahit jatuh hati kepadanya. Pangeran gagah itu datang dengan maksud melamar. Seharusnya lamaran tersebut menjadi kebahagiaan besar bagi seorang gadis, apalagi kemungkinan menjadi permaisuri kerajaan sangat terbuka. Namun, Nyai Tumengkang Sari justru merasa bimbang. Perbedaan keyakinan membuatnya tak ingin menerima lamaran, tetapi penolakan terang-terangan bisa menimbulkan peperangan.
Dengan kecerdikannya, ia mengajukan syarat yang tampaknya mustahil: sang pangeran harus membuat sepuluh sumur hanya dalam semalam. Pangeran Majapahit yang sakti mandraguna tidak gentar. Ia mengerahkan seluruh kesaktiannya dan benar saja, sebelum fajar tiba, sepuluh sumur telah berdiri megah.
Keesokan paginya, pangeran mengajak Nyai Tumengkang Sari meninjau hasil pekerjaannya. Hatinya penuh keyakinan akan kemenangan. Namun, Nyai Tumengkang Sari memiliki akal yang lebih tajam dari sekadar kesaktian. Ia duduk di tepi salah satu sumur sambil berdoa kepada Allah SWT agar syarat itu tidak sepenuhnya terpenuhi.
Ketika pangeran mulai menghitung sumur, ia hanya menemukan sembilan. Berkali-kali dihitung, hasilnya tetap sama. Satu sumur seakan lenyap begitu saja. Padahal sumur yang “hilang” itu adalah sumur yang tengah diduduki Nyai Tumengkang Sari. Doanya terkabul, jumlah sumur tidak lagi genap sepuluh.
Kaget dan kecewa, pangeran pun membatalkan niatnya. Ia kembali ke Majapahit dengan tangan hampa. Sementara itu, Nyai Tumengkang Sari tetap hidup di Gresik dengan keyakinan yang teguh. Sejak saat itulah dusun tempat sumur-sumur itu berada dikenal dengan nama Sumur Songo, yang berarti sembilan sumur.
Bagi masyarakat, kisah ini bukan sekadar legenda. Air dari sumur melambangkan kehidupan dan kesucian. Ia menjadi sarana penting dalam ibadah, terutama wudu, serta lambang keberkahan bagi desa. Nyai Tumengkang Sari mengajarkan bahwa pangan dalam bentuk air bukan hanya penopang tubuh, tetapi juga bagian dari perjuangan menjaga iman, martabat, dan kesejahteraan bersama.
Hingga kini, nama Sumur Songo masih dikenang, bukan hanya sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai warisan nilai luhur tentang kecerdikan, doa, dan arti pangan sebagai sumber kehidupan.