Kisah Sunan Drajat

URL Cerital Digital: https://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/gapai/Drajat.html#:~:text=Sebagaimana%20para%20wali%20yang%20lain,mencabut%20wilus%2C%20sejenis%20umbi%20hutan

Pada suatu masa di abad kelima belas, ketika laut Jawa masih sunyi dan hutan di Lamongan belum tersentuh tangan manusia, seorang pemuda bernama Raden Qasim berlayar menyusuri pesisir utara Jawa. Ia adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, keturunan ulama besar yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Qasim menempuh arah barat, menuju Gresik, seperti yang diperintahkan oleh ayahnya. Namun perjalanan itu tidak berlangsung seperti yang direncanakan.

Hari itu laut bergolak. Awan hitam bergulung di langit, angin berhembus kencang membawa ombak besar yang menghantam perahunya. Raden Qasim dan para nelayan yang bersamanya berusaha bertahan, tetapi perahu kecil mereka tak kuasa menahan amukan badai. Kayu perahu pecah, layar terhempas, dan semua awak kapal terlempar ke laut. Dalam kegelapan malam yang mencekam, Raden Qasim hanya mampu berpegangan pada sepotong dayung, berdoa agar dirinya diselamatkan dari maut.

Ketika fajar mulai menyingsing dan cahaya matahari muncul di balik awan, datanglah dua makhluk laut besar yang berenang di sekitarnya. Seekor adalah ikan cucut, dengan tubuh panjang dan sirip kuat, dan seekor lagi adalah ikan talang, yang dikenal juga sebagai cakalang, berenang mengelilinginya seolah memberi pertolongan. Raden Qasim merasa seolah dua ikan itu diutus untuk menolongnya. Dengan kekuatan terakhirnya, ia berpegangan pada punggung ikan-ikan itu. Arus laut membawa mereka ke arah barat, hingga akhirnya ia terdampar di pesisir Lamongan, di sebuah tempat yang kelak dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati.

Penduduk kampung yang menemukan Raden Qasim segera menolongnya. Dua orang tetua desa, Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar, merawatnya hingga sembuh. Dari merekalah Raden Qasim mengetahui bahwa kampung itu telah lama menerima ajaran Islam dari pendakwah asal Surabaya yang juga pernah terdampar di sana. Setelah pulih, Raden Qasim memutuskan untuk menetap di Jelak dan melanjutkan dakwah ayahnya. Ia menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu, dan mendirikan sebuah surau kecil yang menjadi tempat belajar mengaji bagi warga sekitar.

Surau itu berkembang pesat, menjadi pusat pendidikan agama dan tempat pertemuan masyarakat pesisir. Di sana, ia mengajarkan tentang pentingnya kasih sayang, kejujuran, dan keseimbangan hidup. Penduduk yang dulunya hanya bergantung pada laut mulai memahami makna kerja keras dan keberkahan dari setiap hasil tangkapan mereka. Bagi nelayan, laut bukan lagi sekadar tempat mencari ikan, tetapi juga ladang pahala, sumber kehidupan yang harus dijaga.

Lambat laun, kampung Jelak berubah menjadi permukiman besar yang ramai. Nama daerah itu kemudian berganti menjadi Banjaranyar. Namun Raden Qasim merasa tempat itu kurang strategis untuk melanjutkan dakwahnya karena sering dilanda banjir pada musim hujan. Ia lalu berpindah ke wilayah yang lebih tinggi di selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, dan menamainya Desa Drajat. Dari sinilah ia dikenal dengan nama Sunan Drajat.

Dalam masa dakwahnya, Sunan Drajat tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu kehidupan. Ia mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber alam dengan bijak. Laut di sekitar Lamongan tidak hanya memberikan ikan untuk dimakan, tetapi juga menjadi lambang kesejahteraan dan kasih sayang Tuhan. Sunan Drajat sering menyampaikan kepada para nelayan agar selalu bersyukur, tidak serakah dalam mengambil hasil laut, dan saling berbagi dengan sesama.

Ikan cucut dan ikan talang yang dahulu menolongnya tidak pernah ia lupakan. Dalam setiap khutbahnya, ia sering mengingatkan bahwa bahkan makhluk laut pun bisa menjadi perantara pertolongan Tuhan. Ia menyebut bahwa ikan cucut bukan hanya makanan, tetapi juga anugerah yang kaya manfaat. Dagingnya yang lembut menjadi sumber protein tinggi untuk menjaga kekuatan tubuh, sedangkan hatinya mengandung vitamin A dan minyak alami yang menyehatkan kulit serta menjaga ketahanan tubuh. Begitu pula ikan talang, yang dikenal sebagai ikan kaya omega-3, menjadi sumber pangan bergizi yang memperkuat tulang dan menyehatkan jantung. Sunan Drajat mengajarkan bahwa mengonsumsi hasil laut bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap rezeki yang datang dari Tuhan.

Setelah bertahun-tahun berdakwah, Sunan Drajat mendirikan masjid di perbukitan selatan yang kini dikenal sebagai Ndalem Duwur. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada tahun 1522. Tempat itu kini menjadi kompleks makam dan museum yang menyimpan peninggalannya, termasuk dayung perahu yang dulu menolongnya di tengah badai.

Sunan Drajat dikenang bukan hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai guru kehidupan. Ia menanamkan ajaran agar manusia hidup dengan kasih, tidak menyakiti satu sama lain, dan memelihara alam yang memberi kehidupan. Dari kisahnya, masyarakat Lamongan belajar bahwa laut bukan hanya tempat mencari ikan, melainkan juga cermin dari kebesaran Tuhan. Di setiap ombak yang bergulung dan setiap ikan yang berenang, ada kisah tentang keajaiban, ketekunan, dan rasa syukur yang tak pernah habis.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.