Di sebuah wilayah berhawa sejuk di Kota Mojokerto terdapat sebuah kolam tua yang airnya begitu jernih sehingga dasar kolam terlihat seperti permadani biru kehijauan. Masyarakat menyebutnya Kolam Ubalan. Konon, tempat itu telah ada sejak masa para leluhur menapaki tanah Jawa. Airnya tidak pernah surut meskipun musim kemarau begitu panjang. Dari dulu hingga kini, kolam itu dianggap sebagai anugerah alam yang memancarkan kesejukan dan ketenteraman bagi siapa saja yang datang.
Pada masa lampau, ketika tanah Jawa masih dikuasai oleh pemerintah kolonial, Kolam Ubalan sering digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi para pejabat Belanda. Mereka tertarik pada kejernihan airnya yang memantulkan cahaya seperti permata terendam. Para pejabat itu percaya bahwa mandi di Kolam Ubalan dapat mengusir kepenatan dan membuat pikiran kembali jernih. Suara riak air, gemericik kecil dari mata aird yang mengalir, serta rindangnya pepohonan yang tumbuh di sekeliling kolam menjadikan tempat itu seperti surga kecil yang dilindungi alam.
Di masa itu hiduplah seorang penjaga kolam bernama Wiryo. Ia adalah pemuda sederhana dengan sikap lembut dan penuh hormat pada alam. Tugasnya menjaga kebersihan Kolam Ubalan sekaligus memastikan pengunjung tidak mengotori air suci yang telah menghidupi warga sejak lama. Wiryo percaya bahwa setiap mata air memiliki roh penjaga. Ia sering berkata kepada warga setempat bahwa air tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menenangkan hati.
Suatu hari ketika matahari bersinar lebih terik dari biasanya, seorang pejabat kolonial datang bersama rombongannya. Ia tampak murung dan lelah. Melihat kondisi itu, Wiryo mempersilakan sang pejabat beristirahat di tepi kolam. Sambil mengusap wajah dengan air dari Kolam Ubalan, pejabat itu terdiam cukup lama. Kemudian ia tersenyum tipis. Entah apa yang ia rasakan, tetapi air itu seolah membawa kembali semangat yang telah lama hilang. Sejak kejadian itu, semakin banyak orang datang mengunjungi kolam, tidak hanya untuk mandi, tetapi juga menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Waktu terus berlalu. Pemerintahan berganti dan cerita tentang para pejabat kolonial memudar. Namun Kolam Ubalan tetap berdiri seperti saksi bisu perjalanan sejarah. Masyarakat setempat lalu mengembangkan kawasan di sekitar kolam menjadi tempat wisata yang ramai. Anak anak bermain air di tepian kolam sambil tertawa riang, keluarga datang untuk menikmati udara segar, dan para pelancong dari luar kota mengagumi kejernihan air yang tidak berubah sejak dahulu.
Air dari Kolam Ubalan akhirnya tidak hanya memberikan kehidupan bagi alam sekitar, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk membangun ekonomi melalui pariwisata. Warung kecil berdiri di sepanjang jalur masuk, penjaga kolam bekerja mengatur pengunjung, dan para pedagang oleh oleh menjual kerajinan lokal. Semua itu berputar karena satu unsur penting yaitu air yang terus memancur dari dasar kolam.Sampai hari ini, Kolam Ubalan tetap menjadi destinasi yang mengundang rasa damai. Wisatawan yang datang percaya bahwa kejernihan airnya mengandung ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata kata. Seolah alam sedang berbicara kepada mereka bahwa kesederhanaan adalah jalur menuju kebahagiaan.
Demikianlah kisah Kolam Ubalan. Sebuah tempat yang memadukan sejarah, keindahan alam, dan kekuatan air sebagai daya tarik wisata yang tidak lekang oleh waktu. Air yang mengalir di kolam itu bukan hanya unsur alam. Ia adalah sumber ketenteraman, ruang istirahat bagi jiwa yang letih, dan pengingat bahwa keindahan sejati sering kali hadir dalam bentuk sederhana seperti kejernihan air yang mengalir tanpa henti.