
Pada masa ketika tanah Jawa masih diselimuti hutan-hutan lebat dan belum banyak pemukiman manusia, datanglah dua pemuda dari arah barat, tepatnya dari Ponorogo. Keduanya adalah murid dari seorang guru besar yang bijaksana. Nama mereka adalah Bancerollah dan Kertodrono. Sang guru mengamanatkan mereka untuk mengembara ke arah timur, membuka lahan baru, dan menyebarkan ajaran kebaikan kepada masyarakat yang mereka temui.
Perjalanan mereka panjang dan melelahkan. Mereka menempuh hutan belantara, menyeberangi sungai, serta menghadapi panas dan hujan. Hingga suatu ketika, mereka tiba di sebuah daerah yang tenang namun masih liar, di wilayah yang kini dikenal sebagai Blitar. Di tempat itulah mereka bertemu dengan seorang pertapa tua bernama Punjung Panangkaran, yang telah lama menetap dan hidup menyatu dengan alam.
Ketiganya lalu duduk bersama di bawah naungan pohon besar, berbincang tentang tujuan hidup dan masa depan tanah yang subur di hadapan mereka. Setelah berdiskusi panjang, mereka sepakat untuk bekerja sama membuka hutan dan membangun kehidupan baru bagi masyarakat. Masing-masing diberi tugas: Kyai Bancerollah akan membabat hutan di sebelah timur, sementara Kertodrono akan membuka wilayah di sebelah barat. Punjung Panangkaran sendiri akan menjaga keseimbangan spiritual di wilayah itu dengan berdoa dan bertapa.
Namun cara Bancerollah dalam membabat hutan bukanlah cara biasa. Ia dikenal sebagai sosok sakti dan bijaksana, yang memiliki kedekatan dengan makhluk-makhluk alam. Pagi itu, ketika kabut masih menggantung di antara pepohonan, Bancerollah memanjatkan doa. Dengan tenang, ia menepuk tanah dan berkata,
“Wahai bumi Blitar, aku datang bukan untuk merusakmu, tetapi untuk menumbuhkan kehidupan. Jadikanlah tanah ini subur, pohon-pohonmu bermanfaat, dan hasilnya memberi rezeki bagi manusia yang kelak tinggal di sini.”
Setelah berdoa, ia menaiki seekor harimau besar yang muncul dari dalam hutan, simbol bahwa alam merestui niatnya. Dengan menunggang harimau itu, ia mulai membabat hutan. Pohon-pohon besar tumbang dengan mudah, dan tanah yang semula tandus mulai berubah menjadi lahan yang gembur.
Sambil bekerja, Bancerollah menanam benih berbagai pohon yang buah dan kayunya bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ia menanam pohon kelapa, jati, dan buah-buahan seperti nangka, sawo, dan mangga. Baginya, membuka lahan bukan sekadar mengusir hutan, tetapi menumbuhkan kehidupan baru yang akan memberi pangan dan manfaat bagi generasi mendatang. Ia selalu berkata kepada pengikutnya, “Setiap pohon yang tumbuh adalah doa yang berbuah. Jangan menebang tanpa menanam kembali.”
Setelah beberapa waktu, lahan di wilayah timur itu pun menjadi subur dan ramai oleh penduduk baru. Mereka membangun rumah, menanam tanaman pangan, dan hidup dengan damai. Di tengah wilayah itu, Kyai Bancerollah mendirikan sebuah padepokan, tempat belajar dan beribadah bagi masyarakat sekitar. Dari padepokan itulah ajaran Islam mulai disebarkan di tanah Blitar.
Kyai Bancerollah dikenal bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penjaga harmoni antara manusia dan alam. Ia mengajarkan bahwa segala yang tumbuh di bumi memiliki fungsi dan manfaat, selama manusia tahu cara menggunakannya dengan bijak. Hasil hutan seperti buah, kayu, dan daun tidak hanya menjadi bahan pangan, tetapi juga obat dan sumber kehidupan. Ia sering berpesan kepada murid-muridnya, “Manusia boleh mengambil dari bumi, tapi jangan lupa mengembalikan kebaikan kepada bumi.”
Di padepokannya, setiap panen selalu diiringi dengan doa syukur. Para muridnya diajarkan untuk tidak serakah dan tidak hidup berfoya-foya. Bagi Kyai Bancerollah, kesejahteraan sejati bukan datang dari harta berlimpah, melainkan dari kesederhanaan, kerja keras, dan keberkahan tanah yang dijaga dengan hati yang bersih.
Nama Kyai Bancerollah kemudian menjadi legenda di kalangan masyarakat Blitar. Banyak yang percaya bahwa daerah-daerah subur di sisi timur Blitar saat ini merupakan jejak pembabatan hutan oleh beliau. Kayu dari pohon-pohon yang dulu ia tanam masih digunakan oleh masyarakat untuk bahan bangunan dan perabot, sementara buah-buahan hasil tanamannya menjadi sumber pangan utama warga sekitar.
Hingga kini, masyarakat mengenang Kyai Bancerollah bukan hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai pelopor kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas, alam, dan pangan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa membuka tanah bukanlah tentang menaklukkan alam, melainkan tentang bersahabat dengannya.