Legenda Asal Usul Desa Wonorekso, Alasmalang, Padang & Canthuk Singonjuruh

URL Cerital Digital: https://www.facebook.com/groups/471315029707535/?ref=share&mibextid=NSMWBT

Di ujung timur Pulau Jawa ketika hutan masih menyelimuti tanah dengan rapat dan matahari pagi menembus pepohonan seperti sinar keemasan, hiduplah dua saudara laki laki di sebuah dusun bernama Wonorokso. Mereka dikenal sebagai kakak beradik yang rukun sejak kecil hingga lanjut usia. Mereka tidak pernah berselisih, selalu saling membantu, dan saling mengingatkan tanpa merasa tersinggung. Keduanya memiliki kegemaran yang sama yaitu memelihara lembu dan bertani.

Karena jumlah lembu yang mereka pelihara begitu banyak dan ladang mereka sangat luas masyarakat memberi mereka gelar Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti. Kedua tokoh inilah yang kelak dianggap sebagai cikal bakal berdirinya dusun Wonorokso dan desa desa sekitarnya.

Keharmonisan keluarga mereka menjadi teladan bagi anak cucu. Lambat laun jumlah keturunan bertambah dan kebutuhan pangan juga meningkat. Sawah dan ladang yang tersedia tidak lagi mampu menampung seluruh keluarga. Pada suatu hari Ki Lembu Setata mengajak adiknya bermusyawarah untuk mencari lahan baru. Ki Lembu Sakti menyetujuinya. Dengan restu keluarga mereka berangkat pada hari Soma Manis bulan Besar wuku Kuranthil tahun Wawu windu Kunthara.

Setelah setengah hari perjalanan mereka tiba di padang alang alang yang sangat luas. Di tempat itu mereka mendirikan gubuk sederhana untuk beristirahat lalu mulai membabat alang alang. Mereka mengolah tanah dan menanam padi jagung serta palawija. Tanaman tanaman ini merupakan sumber karbohidrat utama bagi keluarga besar mereka. Padi menjadi bahan nasi yang mengenyangkan. Jagung digunakan sebagai pangan pokok cadangan dan palawija seperti kacang kacangan serta umbi ubian menjadi penopang makanan mereka sehari hari.

Namun ketika panen tiba hasilnya kurang memuaskan. Meskipun demikian mereka tidak putus asa. Berdasarkan hasil musyawarah sebagian keluarga memutuskan untuk menetap sedangkan sebagian lain melanjutkan perjalanan mencari tanah yang lebih subur. Ki Lembu Setata memberi nama tempat itu Alasmalang sebagai pengingat kerja keras mereka. Desa ini kelak menjadi bagian dari Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.

Pagi berikutnya rombongan Ki Lembu Setata kembali berangkat. Mereka menyusuri tanah ke arah barat lalu sedikit ke selatan. Setelah satu hari perjalanan mereka tiba di padang rumput luas tanpa pepohonan besar. Tanahnya tampak subur sehingga mereka memutuskan untuk membuka lahan baru. Mereka menanam padi jagung dan palawija yang tumbuh sangat baik. Ketika panen tiba hasilnya melimpah. Tempat itu dinamakan Padang karena hamparannya terbuka dan terang.

Generasi mereka semakin berkembang sehingga kebutuhan lahan kembali meningkat. Kedua tokoh tua itu memutuskan untuk mencari wilayah baru. Mereka berjalan dua hari hingga tiba di pinggiran hutan lebat. Di sana mereka mendirikan pondok sementara lalu mulai menebang hutan. Kali ini penebangan dilakukan dengan aturan jelas. Kelompok keturunan Ki Lembu Setata menebang dari arah selatan, kelompok keturunan Ki Lembu Sakti menebang dari arah utara.

Selama dua bulan mereka bekerja tanpa lelah. Pada suatu hari dua kelompok itu bertemu di tengah hutan. Pertemuan itu menjadi tanda bahwa lahan baru telah terbuka sepenuhnya. Tanahnya sangat gembur sehingga cukup dicakar ringan agar siap ditanami. Bibit padi jagung dan palawija yang mereka bawa dari Padang ditanam kembali di tanah baru itu. Ketika musim panen datang hasilnya berlimpah ruah seakan tanah menyambut mereka dengan sukacita.

Keberhasilan membuka lahan itu membuat mereka hidup sejahtera. Sebagai pengingat atas perjuangan dan pertemuan kedua kelompok Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti menamai wilayah itu Cathuk yang berasal dari kata caruk caruk dan kepethuk. Seiring waktu sebutan itu berubah menjadi Canthuk yang masih menjadi nama sebuah desa subur di Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.

Kisah ini menjadi legenda yang diwariskan turun temurun dan bukti sejarahnya masih dapat ditemui hari ini. Dari kisah inilah kita memahami bahwa pangan terutama padi jagung dan palawija menjadi penopang hidup keluarga keluarga perintis desa desa tersebut. Tanpa tanaman penghasil karbohidrat ini perjalanan mereka membuka lahan tidak mungkin bertahan lama.

Legenda ini mengajarkan bahwa keluarga yang rukun dapat mengubah tanah liar menjadi ladang yang makmur. Musyawarah, saling percaya, saling membantu, dan saling mengingatkan adalah kunci keberhasilan mereka. Masyarakat dahulu memahami bahwa hidup harus sejalan dengan alam, menjaga tanah agar tetap subur, serta menanam dengan niat baik demi keberlanjutan generasi.

Dalam era modern kisah Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti mengingatkan kita bahwa pangan tidak hanya tumbuh dari tanah tetapi juga dari kerja sama dan keharmonisan manusia. Tanah yang diolah dengan kasih menghasilkan panen yang baik. Masyarakat yang hidup dalam kerukunan akan mampu membangun masa depan yang kuat. Semoga legenda ini menginspirasi kita untuk menjaga alam, menghormati tradisi, dan memelihara hubungan antar sesama sebagaimana para leluhur telah meneladankan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.