Di tanah Jawa, ada sebuah buah yang dahulu hanya dapat dinikmati oleh kalangan kerajaan. Buah itu disebut kepel, buah kecil berwarna cokelat dengan aroma lembut dan rasa yang khas. Buah ini begitu istimewa hingga dipercaya hanya boleh tumbuh dan dikonsumsi oleh keluarga keraton. Namun, di balik keistimewaan buah kepel yang identik dengan Keraton Yogyakarta, tersimpan sebuah kisah menarik dari Tulungagung tentang bagaimana buah langka ini dapat ditemukan dan menjadi bagian dari kekayaan hayati daerah tersebut.
Buah kepel memiliki nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Sejak dahulu, buah ini dianggap sakral dan berkelas. Konon, para putri keraton menjadikan buah kepel sebagai bagian dari perawatan tubuh mereka. Buah ini dipercaya dapat membuat aroma tubuh menjadi harum dan udara napas menjadi lebih segar. Selain itu, mengonsumsi buah kepel diyakini membersihkan tubuh dari dalam, serta menjaga kecantikan dan kesehatan kulit. Tak heran jika buah kepel dikenal sebagai buah para bangsawan.
Di Tulungagung, keberadaan buah kepel bukan sekadar tumbuhan biasa. Beberapa kisah menyebutkan bahwa pohon kepel di daerah ini berasal dari perjalanan seseorang yang dahulu memiliki keterkaitan dengan kerajaan. Ada yang mengatakan bahwa bibit kepel dibawa oleh seorang bangsawan yang melakukan perjalanan ke wilayah selatan Jawa Timur. Ia menanam bibit itu di tempat yang dianggap cocok dan subur agar pohon kepel dapat tumbuh di luar lingkungan keraton. Masyarakat yang kemudian menemukan buah ini merasa bangga sebab tanaman yang dahulu dianggap eksklusif kini dapat dinikmati oleh warga setempat.
Namun, ada pula versi lain yang berkembang di tengah masyarakat Tulungagung. Konon, kepel ditemukan tumbuh secara alami di beberapa titik wilayah tersebut, seakan alam sendiri yang menghadiahkan buah itu kepada masyarakat. Karena statusnya yang langka dan bernilai tinggi, pohon kepel dirawat dengan penuh kehati-hatian. Warga percaya bahwa pohon kepel membawa berkah bagi lingkungan sekitar, sebab pohonnya yang rindang memberikan kesejukan dan buahnya menjadi kebanggaan desa. Buah kepel dipandang sebagai simbol kesederhanaan yang anggun, berbeda dari buah-buah lain yang lazim ditemukan.
Seiring waktu, buah kepel mulai dikenal bukan hanya sebagai buah kerajaan, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan lokal Tulungagung. Masyarakat melihat buah ini sebagai sumber pangan yang unik dan memiliki nilai kultural tinggi. Kepel mengajarkan bahwa pangan tidak hanya memberi nutrisi, tetapi juga menyimpan identitas dan sejarah. Buah kepel menjadi pengingat bahwa di balik setiap pangan lokal selalu ada kisah yang membentuk nilai dan makna bagi daerah tersebut.
Meski saat ini buah kepel masih tergolong langka dan dilindungi, keberadaannya di Tulungagung menjadi kebanggaan tersendiri. Warga berharap agar pohon kepel dapat terus dilestarikan dan diperbanyak, agar generasi mendatang tetap dapat merasakan buah yang pernah menjadi simbol keanggunan para putri keraton. Tulungagung tidak hanya menyimpan kisah tentang air dan marmer, tetapi juga cerita tentang sebuah buah kecil yang membawa jejak sejarah kerajaan.
Dengan demikian, legenda buah kepel di Tulungagung mengajarkan kita bahwa pangan lokal merupakan warisan budaya yang harus dijaga. Buah ini telah melewati batas tembok keraton dan kini tumbuh di tanah masyarakat. Kisahnya memberi pesan bahwa setiap daerah punya kekayaan pangan yang layak dihargai, dipelajari, dan dilestarikan, karena di dalamnya terdapat nilai budaya, kesehatan, serta identitas yang memperkaya kehidupan.