Legenda Desa Mojotrisno

URL Cerital Digital: https://mojotrisno.desa.id/artikel/2021/10/26/legenda-pertemuan-putera-puteri-dua-kerajaan-jadi-asal-usul-nama-desa-mojotrisno-jombang#!

Di tanah Jombang, tepatnya di Kecamatan Mojoagung, terdapat sebuah desa yang namanya begitu indah terdengar, Mojotrisno. Nama desa ini bukan sekadar sebutan, melainkan terikat dengan kisah cinta yang melegenda sejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

Alkisah, pada masa kerajaan Majapahit masih berjaya, hiduplah seorang perempuan bernama Mbok Rondo Ayu. Ia bukan perempuan sembarangan. Wajahnya ayu, tutur katanya halus, dan ia dipercaya untuk merias serta menjaga puteri-puterinya raja. Karena kedekatan itu, puteri raja sering berkunjung ke rumahnya yang berada di pinggiran kerajaan. Rumah Mbok Rondo Ayu sederhana, namun di pekarangan rumahnya berdiri sebuah pohon besar yang rindang, yaitu pohon mojo. Buah mojo memang terkenal tidak sedap rasanya, tetapi pohon ini tetap bermanfaat. Daunnya bisa meneduhkan, batangnya dapat dimanfaatkan, dan keberadaannya memberi naungan bagi siapa saja yang singgah.

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda dari Kerajaan Pajajaran. Pemuda ini rupanya seorang bangsawan yang dikirim untuk mencari tahu lebih banyak tentang Majapahit. Ia menumpang bermalam di rumah Mbok Rondo Ayu, dan di situlah ia takdirkan bertemu dengan seorang puteri Majapahit. Pertemuan itu terjadi di bawah pohon mojo yang rindang. Pandangan pertama mereka menumbuhkan rasa yang dalam, dan pertemuan demi pertemuan berikutnya membuat hati mereka semakin dekat.

Cinta yang tumbuh di bawah pohon mojo itu akhirnya menjadi buah kisah yang tak lekang oleh waktu. Pohon yang buahnya pahit justru menjadi saksi lahirnya rasa yang manis, hingga masyarakat kemudian mengabadikan cerita itu dengan menyebut daerah tersebut sebagai Mojotrisno. Kata mojo berasal dari pohon mojo, sedangkan trisno dalam bahasa Jawa berarti cinta. Nama itu seolah menjadi doa agar cinta yang lahir di desa itu selalu terjaga, sebagaimana pohon mojo yang kokoh berdiri.

Namun, kisah cinta itu tidak berhenti di situ. Pemuda Pajajaran yang rupanya seorang putera raja ingin mempersunting kekasihnya, sang puteri Majapahit. Akan tetapi, sang puteri mengajukan satu syarat sederhana, yakni agar rambut panjang pemuda itu dipotong agar tampak lebih rapi. Bagi orang biasa syarat itu mudah saja, tetapi rambut sang putera raja tidak bisa dipangkas dengan cara biasa. Seperti halnya tokoh-tokoh sakti di masa lalu, tubuhnya memiliki kekuatan gaib yang membuat rambutnya sekeras baja.

Semua orang kebingungan, hingga akhirnya Mbok Rondo Ayu mengeluarkan sebuah gunting yang menjadi pusakanya. Dengan gunting itu, ia berhasil memangkas rambut sang putera raja. Pemuda itu tampak makin tampan, dan syarat pun terpenuhi. Tetapi setelah rambutnya terpotong, alam tiba-tiba bergemuruh. Hujan deras turun disertai petir yang menyambar-nyambar, tidak berhenti berhari-hari lamanya.

Akibat hujan besar itu, tanah di sekitar desa terbelah dan terbentuklah aliran sungai yang deras. Air dari hulu bertemu di satu titik, membentuk persimpangan yang mirip dengan bilah gunting. Masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Kali Gunting, sebuah sungai yang hingga kini masih mengalir dan dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi. Airnya menghidupi sawah-sawah di sekitarnya, memberi kesuburan, serta menjamin ketersediaan pangan bagi warga desa.

Sejak saat itulah, Mojotrisno dikenal sebagai tempat yang menyimpan legenda cinta abadi. Pohon mojo yang dahulu menjadi saksi janji dua insan dan sungai yang terbentuk dari peristiwa gaib alam semesta, keduanya tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga peran nyata bagi kehidupan. Pohon mojo memberi pelajaran bahwa meski buahnya pahit, dari naungannya lahir cinta yang manis. Sedangkan sungai Kali Gunting mengajarkan bahwa air adalah sumber kehidupan, mengalirkan rezeki dan menjadi pengikat keberlangsungan desa.

Kini, Mojotrisno bukan hanya sebuah nama desa, melainkan juga sebuah warisan cerita rakyat yang sarat makna. Setiap tetes air sungai dan setiap hembusan angin di bawah pohon rindang di desa itu seakan berbisik tentang kisah cinta yang pernah menggetarkan hati dua insan dari dua kerajaan besar.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.