
Di pesisir utara Tuban, terdapat sebuah desa bernama Tasikmadu. Nama desa ini menyimpan sebuah kisah lama yang masih dipercaya masyarakat hingga kini. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai daerah pesisir yang ditumbuhi pohon kelapa dan pohon siwalan. Dari pohon siwalan inilah keluar nira manis yang disebut legen, cairan segar yang biasa dikumpulkan oleh para penderes.
Konon, pada suatu masa datanglah seorang sesepuh yang memiliki karomah ke daerah Panjunan, tidak jauh dari Tasikmadu. Sang sesepuh meminta kepada para penderes agar dibuatkan gula dari hasil nira pohon siwalan. Para penderes segera bergegas memenuhi permintaan tersebut. Anehnya, nira yang baru saja diturunkan dari pohon langsung berubah menjadi kristal gula hanya dalam waktu singkat. Peristiwa ini membuat para penderes takjub, karena biasanya proses pembuatan gula membutuhkan waktu yang lama.
Warga setempat kemudian menghubungkan peristiwa itu dengan kehadiran sang sesepuh. Mereka tidak tahu pasti apakah beliau seorang wali, karena tidak ada catatan sejarah tertulis mengenai siapa dirinya. Namun, mukjizat kecil itu telah meninggalkan kesan mendalam. Sejak saat itu, daerah tersebut disebut Tasikmadu. Kata “tasik” berarti pesisir, sedangkan “madu” melambangkan manisnya gula nira yang dihasilkan dari pohon siwalan.
Selain menyimpan kisah legenda, Tasikmadu juga dikenal sebagai daerah dengan peninggalan sejarah dan religi. Di sana terdapat Petilasan Mbah Tundung Musuh atau makam Gagar Manik, yang kini menjadi salah satu tujuan wisata ziarah. Ada pula makam Mbah Siti Syari’ah dan Mbah Pasek di Desa Pasekan yang tidak jauh dari Tasikmadu.
Kini, Desa Tasikmadu tidak hanya dikenal karena cerita rakyatnya, tetapi juga karena kekayaan alamnya. Letaknya yang berada di pesisir membuat desa ini memiliki tambak, sawah, dan kebun yang subur. Pohon siwalan tetap tumbuh dengan gagah, sementara perkebunan blimbing madu menjadi ikon desa. Dengan lahan sekitar 40 hingga 50 hektare, perkebunan blimbing madu mampu menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Legenda Tasikmadu mengajarkan bahwa pangan bukan sekadar hasil bumi untuk dimakan, melainkan juga bagian dari identitas dan sejarah suatu daerah. Pohon siwalan dengan niranya yang manis telah melahirkan nama desa, mengikat masyarakat dengan kisah lama, serta meneguhkan ikatan antara alam, manusia, dan budaya.