Legenda Kebomas

URL Cerital Digital: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7089592/legenda-kebomas-gresik-kerbau-emas-simbol-kejayaan-giri-kedaton

Di pesisir utara Jawa Timur, berdiri sebuah kecamatan yang kini dikenal dengan nama Kebomas. Letaknya sangat strategis, menjadi pusat pemerintahan dan denyut perekonomian Kota Pudak, sebutan lain untuk Gresik. Namun, di balik nama Kebomas tersimpan sebuah kisah lama yang diwariskan turun-temurun, mengandung jejak karomah para wali sekaligus kebesaran sejarah Giri Kedaton.

Alkisah, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Sunan Giri memimpin sebuah wilayah bernama Giri Kedaton. Ia dikenal bukan hanya sebagai ulama yang menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga sebagai pemimpin yang bijaksana. Tersebutlah Raden Brawijaya, penguasa Majapahit, yang ingin menguji dan melihat sendiri seberapa besar kekayaan serta keagungan kerajaan Sunan Giri.

Ketika Raden Brawijaya tiba di Giri Kedaton, ia disuguhi sebuah pemandangan menakjubkan. Di tepi danau, tampak puluhan kerbau berwarna keemasan yang berkilau diterpa cahaya matahari. Bukan emas sungguhan, melainkan wujud kerbau biasa yang oleh kesaktian Sunan Giri tampak bagai perwujudan emas murni. Raden Brawijaya terdiam, kagum, sekaligus mengakui kebesaran Sunan Giri dan kerajaannya. Sejak saat itu, masyarakat setempat menamai wilayah itu dengan sebutan Kebomas, singkatan dari Kebo Emas.

Ada pula versi lain dari kisah yang berkembang. Diceritakan bahwa masyarakat Giri Kedaton dahulu pernah mengumpulkan emas hingga menimbun seperti gundukan besar. Saking banyaknya, orang menyebut emas tersebut sebesar kerbau. Ungkapan itu akhirnya melekat, hingga lahirlah sebutan Kebomas.

Legenda kerbau emas bukan hanya meninggalkan nama bagi sebuah wilayah, tetapi juga menorehkan simbol budaya yang masih dikenang. Lambang kerbau emas dipakai dalam berbagai instansi di Gresik, termasuk perusahaan besar seperti PT Petrokimia Gresik. Kerbau emas menjadi perlambang kekuatan, ketekunan, serta sahabat bagi petani yang tak kenal lelah bekerja demi kehidupan bersama.

Namun Gresik bukan hanya kaya akan kisah sejarah dan legenda. Ia juga terkenal sebagai tanah yang melahirkan pangan tradisional yang tak kalah legendaris, yaitu pudak. Kudapan manis ini dibuat dari tepung beras, santan, dan gula, kemudian dibungkus pelepah pinang yang khas. Pudak bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas Gresik, bahkan hingga Gresik dijuluki Kota Pudak. Sama seperti kisah kerbau emas yang menjadi kebanggaan masyarakat, pudak juga hadir sebagai simbol kebersamaan, dihidangkan dalam acara keluarga, perayaan, hingga suguhan bagi tamu jauh.

Melalui legenda Kebomas dan pangan tradisionalnya, kita dapat melihat bagaimana sejarah, budaya, dan makanan saling bertautan. Kerbau emas menjadi lambang kebesaran, sementara pudak hadir sebagai lambang kebersahajaan yang menyatukan masyarakat Gresik. Dari situlah lahir sebuah pelajaran bahwa pangan tradisional bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang jati diri, kebersamaan, dan warisan budaya yang tak ternilai.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.