Legenda Kemendung dan Keberkahan Sumber Airnya

URL Cerital Digital: https://trawaslagi.blogspot.com/2018/04/sedekah-dusun-kemendung-dan-legenda.html?m=1

Dusun Kemendung di Kecamatan Trawas, Mojokerto, dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumber air yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Air dari sumber ini digunakan untuk irigasi lahan pertanian, sementara ikan-ikan yang hidup di dalamnya menjadi konsumsi masyarakat. Keberadaan sumber air ini tidak hanya menjadi penopang kehidupan, tetapi juga memiliki nilai historis serta budaya yang kuat bagi warga setempat.

Setiap tahun, masyarakat Dusun Kemendung menggelar tradisi besar bernama Sedekah Bumi, yang juga dikenal sebagai acara Ruwah Dusun. Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah. Menariknya, persiapan acara tersebut dilakukan secara gotong royong bahkan sejak satu bulan sebelum hari pelaksanaan. Warga dari tiap RT bahu membahu membangun ancak bangunan sesaji raksasa yang menjadi ikon utama ritual tersebut.

Ukuran ancak di Kemendung terbilang luar biasa besar dan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Kecamatan Trawas. Tingginya mencapai sekitar tujuh meter dengan panjang tujuh meter. Kreativitas warga sangat terlihat dalam pembuatannya, karena seluruh material yang digunakan memiliki makna dan manfaat. Bahkan versi yang dianggap kecil saja tampak sebesar pos kamling, menunjukkan betapa totalnya masyarakat dalam menyambut tradisi leluhur ini.

Di balik kejayaan Dusun Kemendung sebagai lumbung pangan, terdapat legenda yang menjadi asal mula nama dusun tersebut. Dahulu wilayah ini bernama Nongko Putih. Namun, sebuah peristiwa asap hitam yang membumbung tinggi akibat pembakaran padi Rondo Kuning di Tamiajeng dipercaya sebagai petunjuk gaib yang mengarah pada suatu titik wilayah. Mbah Gede Padusan, seorang ulama yang berpengaruh, kemudian memberi pesan agar wilayah yang berada di bawah kepulan asap itu dinamai Kemendung yang menggambarkan mendung atau asap gelap tersebut.

Bagi warga Kemendung, pelaksanaan Sedekah Bumi bukanlah pemborosan seperti yang mungkin dikatakan sebagian orang luar desa. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa semakin besar usaha yang mereka kerahkan, semakin besar pula keberkahan yang akan kembali. Tradisi yang diwariskan leluhur ini tetap dipertahankan sebagai bentuk syukur dan penghormatan terhadap alam sekaligus menjaga ikatan erat antarwarga.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.