
Pada masa kejayaan Majapahit, kerajaan yang megah itu tengah dilanda kerisauan. Prabu Sri Kertawijaya, sang raja, duduk gelisah di balairung istana. Hatinya gusar melihat keadaan rakyatnya. Perang saudara tak kunjung padam, sementara di kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, kebiasaan berjudi, mabuk-mabukan, dan berfoya-foya justru semakin marak. Negeri yang dahulu harum karena keagungan budayanya kini seperti kehilangan arah.
Ratu Darawati, permaisuri sang raja, dengan bijak mencoba menenangkan hati suaminya. “Paduka, hamba memiliki seorang keponakan yang ahli mendidik akhlak dan budi pekerti. Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kakanda Dewi Candrawulan,” ujarnya.
Nama itu kelak akan dikenal luas sebagai Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Sayyid Ali Rahmatullah adalah cucu Raja Campa, anak kedua dari Syekh Ibrahim Asmarakandi. Usianya masih muda, tetapi sudah dikenal berilmu dan bijaksana. Mendengar kabar itu, Prabu Kertawijaya segera mengutus orang ke Campa, negeri yang kini dikenal sebagai Kamboja, untuk menjemputnya.
Rombongan Sayyid Ali Rahmatullah akhirnya tiba di Trowulan, pusat kerajaan Majapahit. Kepada Prabu Kertawijaya, ia menyatakan kesediaannya membantu mendidik bangsawan dan rakyat agar kembali kepada kehidupan yang berakhlak. Sebagai penghargaan, ia diberi sebidang tanah di Ampel Denta, Surabaya, serta diamanahi tiga ratus keluarga untuk diajak bermukim dan dididik. Meskipun sang prabu tidak berkenan memeluk Islam, ia memberi kebebasan penuh kepada Raden Rahmat untuk mengajarkan ajaran itu tanpa paksaan.
Raden Rahmat kemudian menikah dengan Dewi Condrowati, saudara dari istri Adipati Tuban. Sejak itu, ia dipanggil dengan sebutan Raden Rahmat. Kehidupannya di Surabaya penuh perjuangan, bukan hanya dalam mengajarkan agama, tetapi juga dalam membangun tempat ibadah.
Di sebuah desa bernama Kembang Kuning, sekitar delapan kilometer dari Ampel, Raden Rahmat mendirikan sebuah langgar sederhana. Bangunan itu kelak disebut Langgar Tiban. Yang menarik, langgar itu tidak berdiri dengan bahan mewah, melainkan dengan apa yang ada di sekitar mereka. Batu bata disusun rapi sebagai alas, sementara di setiap sudut berdiri empat tiang penyangga. Atapnya tidak terbuat dari genting, melainkan dari daun tebu yang dianyam dengan teliti.
Tebu, tanaman manis yang biasanya diolah menjadi minuman segar atau bahan pangan, di tangan masyarakat waktu itu berubah fungsi menjadi pelindung tempat ibadah. Daunnya yang lebar dan kuat dijadikan peneduh, memberi kesejukan bagi siapa pun yang beribadah di bawahnya. Inilah bukti bahwa pangan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kebudayaan dan spiritualitas masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, Langgar Tiban semakin dikenal. Pada tahun 1951, bangunan itu diubah menjadi masjid dan diberi nama Masjid Rahmat. Meski sederhana, masjid ini penuh makna. Penduduk sekitar percaya bahwa serambi bagian utaranya memiliki keistimewaan. Menurut mereka, doa-doa yang dipanjatkan di sana sering kali dikabulkan. Keyakinan ini menambah kesakralan Masjid Rahmat di mata jamaah.
Namun perjalanan masjid ini tidak selalu mudah. Pernah suatu masa, kawasan sekitarnya berubah menjadi hutan lebat, hingga bangunan itu nyaris terlupakan. Baru ketika seorang penduduk yang tengah merambah hutan menemukannya kembali, masjid itu hidup lagi, menjadi pusat ibadah yang ramai didatangi orang.
Hingga kini, Masjid Rahmat Kembang Kuning tetap berdiri. Ia tidak hanya menyimpan nilai sejarah penyebaran Islam di Surabaya, tetapi juga menyimpan kisah bagaimana tanaman sederhana seperti tebu memberi peran besar, baik sebagai sumber pangan maupun sebagai bagian dari berdirinya sebuah rumah ibadah. Dari sini, masyarakat belajar bahwa setiap hasil bumi memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar mengenyangkan perut.