
Di kaki Gunung Ronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, terdapat sebuah sumber mata air yang keindahannya mampu membuat siapa saja terpesona. Sumber itu bernama Sumber Jenon. Airnya jernih berwarna biru kehijauan, memantulkan cahaya matahari yang jatuh ke permukaan seperti kaca bening. Dari kejauhan, Sumber Jenon tampak seperti kolam alami yang tenang, padahal dasarnya mencapai kedalaman empat meter. Di sekelilingnya tumbuh pepohonan tinggi yang membuat suasana terasa sejuk dan damai.
Sumber Jenon dikenal sebagai tempat yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat sekitar. Sebagai sumber air, Jenon menyediakan kebutuhan dasar untuk minum, memasak, dan membantu pengairan tanaman pangan warga. Selain itu, terdapat ikan yang sangat khas dan legendaris di dalamnya, yaitu ikan sengkaring. Ikan ini memiliki warna hitam dan merah serta ukuran yang dapat mencapai 170 centimeter. Menurut cerita masyarakat, ikan sengkaring telah hidup ratusan tahun dan jumlahnya selalu tetap, yaitu 37 ekor. Meskipun ada yang mencoba menangkapnya, jumlah ikan itu tidak pernah berkurang. Ikan sengkaring tidak dimakan, tetapi keberadaannya menjadi simbol keseimbangan alam di Sumber Jenon.
Namun bukan hanya itu yang membuat Sumber Jenon istimewa. Masyarakat sekitar percaya bahwa airnya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit kulit. Keyakinan itu berkembang dari cerita yang diwariskan secara turun temurun, cerita yang berkaitan dengan sepasang suami istri bernama Rantung Grati dan Irogat.
Pasangan ini hidup pada masa Kerajaan Mataram. Setelah terjadi peperangan besar, mereka memutuskan untuk mengungsi ke sebuah daerah terpencil yang kini menjadi lokasi Sumber Jenon. Di sana mereka mengolah tanah untuk bercocok tanam. Selama beberapa waktu, kerja keras mereka membuahkan hasil. Tanaman mereka tumbuh subur dan menghasilkan panen melimpah, cukup untuk menghidupi keluarga dan menjadi cadangan pangan.
Namun keadaan berubah ketika musim kemarau panjang melanda. Tanaman mereka tidak mendapatkan air yang cukup. Daun daun mulai kering, batang layu, dan tanaman mati satu per satu. Simpanan pangan menipis dan situasi semakin sulit. Melihat keadaan itu, Rantung Grati merasa harus melakukan sesuatu. Ia berpamitan kepada istrinya dan memutuskan untuk pergi mencari solusi. Dengan penuh tekad, ia menuju Gunung Harimau untuk bertapa.
Rantung Grati memilih bertapa di bawah pohon Jenu, pohon besar yang akarnya menghunjam kuat ke tanah. Ia percaya bahwa dengan ketulusan hati, Sang Hyang akan memberikan pertolongan. Hari hari berlalu dalam kesunyian. Rantung Grati berdoa dengan penuh harap agar keluarganya dan rakyat di sekitarnya mendapat air untuk bertahan hidup.
Hingga pada suatu hari, angin kencang berhembus dari arah pegunungan. Angin itu begitu kuat sehingga pohon Jenu yang besar dan kokoh akhirnya tumbang. Ketika batang pohon itu roboh ke tanah, terjadi keajaiban. Dari bekas tumbang itu, air memancar deras dari dalam bumi. Air itu menyembur dengan kekuatan luar biasa dan mengalir membentuk genangan besar. Itulah awal munculnya Sumber Jenon.
Ketika Rantung Grati kembali kepada istrinya, ia membawa kabar gembira. Sumber air itu mengalir tidak hanya untuk mereka, tetapi juga untuk masyarakat luas yang kemudian menetap di sekitar daerah tersebut. Tanaman kembali tumbuh, kehidupan pulih, dan masyarakat bersyukur atas karunia alam yang muncul dari ketulusan hati seorang pertapa.
Sumber Jenon kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Airnya digunakan sebagai sarana pangan dasar dan menjadi sumber kehidupan bagi berbagai makhluk yang tinggal di sekitarnya. Mitos tentang ikan sengkaring yang tidak boleh diganggu dan keyakinan akan khasiat airnya semakin memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam di mata masyarakat.
Legenda Mata Air Sumber Jenon mengajarkan bahwa alam sering memberikan jawaban kepada mereka yang tulus memohon dan menjaga keseimbangannya. Dari kisah Rantung Grati kita belajar bahwa ketekunan, kesabaran, dan hubungan baik dengan alam dapat mendatangkan kehidupan baru. Sumber Jenon bukan hanya kolam air indah, tetapi bukti bahwa manusia dan alam saling terkait. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan, dan Sumber Jenon menjadi simbol nyata dari kearifan lokal yang mengingatkan kita untuk selalu hidup selaras dengan alam.