Di Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Desa Weton Ngare, Kalitidu, terdapat sebuah petilasan yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat. Petilasan itu dipercaya sebagai jejak langkah Prabu Angling Dharma, seorang raja bijaksana dari Kerajaan Mlowopati yang kisahnya melegenda di tanah Jawa. Uniknya, petilasan ini tidak berada di puncak bukit atau dalam hutan keramat, melainkan di tengah pematang sawah. Di depan gapuranya, tanah selalu tampak basah seolah menyimpan sumber kehidupan. Konon, dulunya tempat itu adalah sebuah kolam pemandian, tempat pertemuan sakral antara Prabu Angling Dharma dan Dewi Setyowati dalam wujud burung mliwis putih.
Alkisah, Angling Dharma yang dikenal arif pernah mendapat hukuman berat akibat melanggar janji suci. Ia bersumpah tidak akan menikah lagi setelah Dewi Setyowati, permaisurinya yang setia, memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Namun takdir dan godaan mengguncang iman sang raja. Dewi Uma dan Dewi Ratih, dua dewi kahyangan, menguji keteguhan janji itu. Mereka menyamar, seorang menjadi nenek renta dan seorang lagi menjadi gadis cantik menyerupai Setyowati. Hati Angling Dharma pun goyah. Sumpah yang pernah terucap ia langgar, dan seketika ia mendapat kutukan.
Kutukan itu mengubahnya menjadi burung belibis atau mliwis putih. Sayapnya membentang, bulunya putih berkilau seperti sinar bulan, namun hatinya penuh luka. Dalam wujud burung itu ia berkelana hingga tiba di Bojonegoro, singgah di sebuah sendang yang jernih. Di situlah, menurut cerita rakyat, ia bertemu kembali dengan Setyowati, meski hanya sekejap dalam perjumpaan batin. Air sendang itu pun dianggap sakral, bukan sekadar tempat pemandian, melainkan sumber kehidupan yang dipercaya menyimpan jejak kesucian cinta.
Sejak saat itu, masyarakat menganggap burung mliwis putih bukan burung biasa. Ia dihormati sebagai lambang kesetiaan, keteguhan, sekaligus pengingat bahwa janji yang terucap harus dijaga dengan hati yang murni. Burung mliwis putih dipercaya membawa pesan spiritual, sehingga kemunculannya di sekitar sendang sering dianggap pertanda baik.
Selain kisah burung sakral, sendang yang dahulu menjadi kolam pemandian juga memiliki fungsi nyata bagi kehidupan masyarakat. Airnya mengalir jernih, menjadi sumber minum dan penghidupan. Para petani menggantungkan harapan pada air itu untuk menyuburkan sawah mereka. Dari sumber yang sederhana itu lahir padi yang menguning, tumbuhan yang segar, serta kesejahteraan bagi banyak keluarga. Air sendang bukan hanya penopang pangan, melainkan juga bagian dari kebudayaan. Setiap tetesnya diyakini mengandung nilai spiritual yang diwariskan dari zaman leluhur.
Kini, petilasan Angling Dharma di Bojonegoro menjadi tempat ziarah sekaligus objek wisata. Meski yang tersisa hanya potongan batu bata kuno, suasana di sekitar sendang masih menyimpan aura mistis yang kental. Banyak orang datang bukan hanya untuk berdoa atau bernazar, tetapi juga untuk merasakan kesejukan airnya dan mengenang legenda yang terukir di tanah ini.
Legenda Mliwis Putih mengajarkan bahwa kesetiaan dan janji adalah sesuatu yang suci. Ia juga menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan yang tak ternilai, sama sakralnya dengan cinta yang murni. Kolam pemandian yang menjadi jejak Angling Dharma bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan yang terus mengalir dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur.