Legenda Mojongapit

URL Cerital Digital: https://njombangan.com/seni-dan-budaya/cerita-rakyat-legenda/

Di sebuah tanah lapang di wilayah Jombang, suasana malam begitu riuh oleh denting gamelan dan tawa masyarakat yang berkerumun. Malam itu sekelompok penari tayub tengah menggelar pertunjukan. Lampu minyak berkelap-kelip, asap dupa mengepul ke udara, dan suara gamelan menggema hingga jauh. Orang-orang berdatangan untuk menonton, terhanyut dalam gerak tari yang memikat.

Di tengah keramaian itu, tampak seorang laki-laki asing menyelinap. Dialah Surontanu, yang sedang dalam pelarian dari Kebo Kicak. Ia menyamar di antara penonton agar jejaknya tak mudah dikenali. Tatapannya awas, tubuhnya waspada, meski wajahnya berusaha tampak tenang seolah hanya bagian dari kerumunan yang larut dalam hiburan rakyat.

Namun, malam penuh keriuhan itu berubah mencekam ketika tiba-tiba muncul sesosok makhluk gaib. Ia adalah Sardulo Onggo Bliring, siluman macan loreng yang menjadi sekutu Kebo Kicak. Tubuhnya besar dengan loreng berkilau di bawah cahaya bulan. Tatapannya tajam seperti bara, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Kehadiran Bliring membuat orang-orang berhamburan ketakutan, meninggalkan arena pertunjukan.

Bliring langsung menerkam Surontanu. Dengan cekatan ia menjepit leher Surontanu menggunakan sebatang kayu randu yang dipatahkan dari pohon di sekitar tempat itu. Surontanu tercekik, tubuhnya meronta-ronta mencari napas. Pohon randu yang biasanya dikenal sebagai sumber kapas, pada malam itu justru menjadi alat menjerat hidupnya.

Kapas dari pohon randu sesungguhnya adalah anugerah alam yang bernilai tinggi. Masyarakat Jawa sejak lama memanfaatkannya untuk membuat bantal, kasur, dan alat penunjang tidur agar tubuh beristirahat dengan nyaman. Dari seratnya pula, kain kasar sederhana dapat dibuat. Pohon randu tumbuh menjulang dengan cabang-cabang yang kuat, menjadi bagian penting dari keseharian masyarakat. Tetapi pada malam itu, kayu randu justru berubah menjadi senjata berbahaya di tangan siluman.

Ketika Surontanu hampir kehilangan tenaga, tiba-tiba Kebo Kicak muncul. Ia mendekat, dan Bliring sempat teralihkan perhatiannya. Jepitan kayu randu yang melilit leher Surontanu melemah sejenak. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan sekuat tenaga ia menghentakkan tubuhnya, melepaskan diri dari cengkeraman siluman.

Meskipun tubuhnya masih terasa sakit dan napasnya tersengal-sengal, Surontanu berhasil meloloskan diri. Ia segera berlari ke arah tenggara, meninggalkan arena tayub yang telah kacau dan penuh kepanikan. Bliring mengaum marah, namun Surontanu sudah terlalu jauh untuk dikejar.

Sejak saat itu, kisah tentang Mojongapit hidup dalam ingatan masyarakat. Pohon randu yang menjadi bagian penting dari kehidupan, dalam cerita ini tampil sebagai saksi sekaligus alat yang digunakan dalam pertarungan gaib. Dari kisah ini tersirat pesan bahwa alam selalu hadir dalam setiap sisi kehidupan manusia. Kadang ia memberi kenyamanan, seperti kapas randu yang membuat tidur lebih nyenyak, tetapi bisa pula menjadi alat ujian yang menantang, sebagaimana dialami Surontanu.

Legenda Mojongapit pun menjadi bagian dari warisan cerita rakyat Jombang. Ia bukan sekadar dongeng pertarungan, melainkan juga gambaran betapa erat hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Kayu randu dan kapasnya menjadi simbol penting, mengingatkan bahwa setiap anugerah alam harus dihargai, dijaga, dan dimanfaatkan dengan bijak agar selalu memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.