Di sebuah sudut tanah Jawa Timur, berdiri sebuah pohon beringin yang begitu megah. Pohon itu tidak sekadar besar, melainkan luar biasa raksasa. Konon, seandainya sepuluh orang dewasa berpegangan tangan sambil melingkari batangnya, tetap saja lingkaran mereka tidak akan sanggup menutupinya. Pohon beringin ini kelak dikenal sebagai Ringincontong, penanda sejarah sekaligus simbol kehidupan masyarakat.
Bagi orang Jawa, beringin bukan hanya pohon pelindung. Daun dan rantingnya memberi naungan dari panas terik, akarnya mencengkram bumi dengan kokoh, sementara ranting keringnya sering dipungut warga untuk dijadikan kayu bakar. Fungsinya sederhana tetapi sangat berarti, karena memberi tenaga bagi dapur-dapur desa, menjadi sumber kehidupan dari makanan yang dimasak dengan api ranting itu.
Alkisah, kisah tentang pohon beringin ini tak bisa dilepaskan dari perseteruan dua tokoh sakti pada masa lalu, yakni Surontanu dan Kebo Kicak. Pertarungan mereka terjadi dengan dahsyat dan mengguncang tanah sekitarnya.
Diceritakan, Surontanu yang memiliki kesaktian luar biasa terus membuat onar di berbagai tempat. Ia tidak mudah dikalahkan, sehingga sembilan nawabhayangkari, pasukan pilihan yang tangguh, turun tangan membantu Kebo Kicak menghadapi dirinya. Namun meski jumlah mereka banyak, kehebatan Surontanu membuat semua orang kewalahan.
Pada saat itulah Kebo Kicak, tokoh yang masyhur dengan kesaktian tinggi, mengambil alih. Ia mengerahkan aji pamungkasnya, yang dikenal sebagai Aji Singo Begandan. Mantra itu diiringi dengan bunyi pusaka sakti bernama Bende Tengoro. Suara bende menggema keras, bagai gemuruh yang membuat tanah bergetar.
Surontanu terhuyung. Meski ia berusaha menahan gempuran, cahaya kesaktiannya mulai meredup. Pertarungan itu berlangsung di sekitar pohon beringin raksasa yang menjadi saksi bisu peristiwa besar. Dari balik rimbun daunnya, masyarakat menyaksikan dengan rasa takut sekaligus kagum.
Akhirnya, Surontanu tidak sanggup menahan serangan Kebo Kicak. Ia terdesak lalu melarikan diri ke arah tenggara. Sementara itu, beringin raksasa tetap berdiri tegak, seolah menyerap semua kisah yang terjadi di bawah naungannya. Sejak saat itu, pohon tersebut disebut Ringincontong, nama yang hingga kini melekat sebagai penanda sejarah Jombang.
Lebih dari sekadar legenda, Ringincontong menjadi simbol keseharian masyarakat Jawa Timur. Dari sisi pangan, beringin memang tidak menghasilkan buah yang dimakan manusia. Namun pohon ini memberi peran besar dalam kehidupan sehari-hari. Daun rindangnya menghadirkan keteduhan bagi para petani yang beristirahat usai bekerja. Sementara ranting-ranting kering yang jatuh dari cabang pohonnya dikumpulkan untuk menjadi kayu bakar. Api dari kayu itu menghidupkan tungku, menghangatkan nasi, merebus sayur, atau memanggang lauk pauk sederhana yang menjadi sumber energi masyarakat.
Dengan demikian, legenda Ringincontong bukan hanya cerita tentang kesaktian tokoh masa lalu, tetapi juga kisah tentang sebuah pohon yang hadir untuk memberi manfaat nyata. Pohon beringin mengajarkan makna keberlangsungan hidup, bahwa sesuatu yang tampak sepele seperti ranting kering sesungguhnya menjadi penyambung napas manusia. Nilai itu terwariskan dari masa lalu hingga kini, menyatu dalam tradisi masyarakat Jombang dan Jawa Timur.