Legenda Rondo Kuning Tamiajeng

URL Cerital Digital: https://trawaslagi.blogspot.com/2017/09/intip-cerita-rondo-kuning-desa.html?m=1

Kisah Rondo Kuning dari Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto, merupakan salah satu legenda yang paling dikenal dan sarat nilai sejarah. Cerita ini bermula pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1363, ketika Prabu Hayam Wuruk memerintahkan Tumenggung Surodito untuk membuka hutan di lereng Gunung Penanggungan bagian selatan. Lokasi itu akan dijadikan taman bernama Ayu Bodah Selerai, tempat tinggal bagi selir raja bernama Dewi Supriani beserta pembantunya, Dewi Rini dan Dewi Supriati. Perjalanan pembabatan hutan tersebut dilakukan bersama para prajurit serta tokoh-tokoh sakti seperti Mbah Gedhe Padusan dan Mbah Agung Pinayungan.

Setelah taman selesai dibangun, Dewi Supriani menempatinya. Namun Mbah Surodito wafat dan dimakamkan di Tamiajeng. Tugas-tugas beliau kemudian dilanjutkan oleh Mbah Gedhe Padusan, seorang ulama besar yang juga mendirikan sebuah musholla di dekat Sumber Beji. Musholla ini kemudian menjadi pusat kegiatan keagamaan dan tempat para santri menimba ilmu. Salah satu kisah terkenal adalah ketika Mbah Gedhe Padusan menggunakan karomahnya pada malam Jumat Legi untuk membuka lahan persawahan hanya dengan bantuan banteng kencana yang bekerja layaknya manusia sedang membajak.

Konon, setelah sawah itu terbuka, Mbah Gedhe mengadakan sayembara menanam padi dari selatan ke utara. Hadiahnya bukan sembarangan, yaitu selendang Cinde Puspita untuk yang berhasil menyelesaikan tanam. Sayembara ini hanya diikuti dua orang, yakni Dewi Rini dan Dewi Supriati. Malang bagi Dewi Rini, ia gugur karena kelelahan, sedangkan Dewi Supriati berhasil mencapai bagian utara sebelum akhirnya meninggal seketika saat menegakkan badan. Petak sawah tempat Dewi Supriati wafat kemudian dinamakan Petak Cinde karena selendang hadiah dikuburkan bersama jenazahnya.

Dewi Rini yang kemudian terkenal sebagai Rondo Kuning melanjutkan kisah tragisnya pada musim panen. Saat memanen padi, bagian belakang sawah secara ajaib ikut menguning dengan sendirinya. Lumbung penuh hingga hampir meluap, sehingga Dewi Rini memutuskan membakar sisa padi di sawah. Namun kejadian aneh terjadi: padi dalam lumbung ikut terbakar tanpa sebab. Asap dan abu padinya membumbung tinggi hingga jatuh ke wilayah Padusan, dan asap pekatnya memendung di atas Tamiajeng. Peristiwa ini melatarbelakangi perubahan nama sebuah wilayah menjadi Kemendung, seperti pesan Mbah Gedhe kepada masyarakat. Setelah kejadian itu, Dewi Rini menghilang tanpa jejak, sehingga namanya dikenang sebagai sosok mistis yang mewarnai sejarah desa.

Selain sarat legenda, Desa Tamiajeng juga memiliki peran penting dalam perjalanan Islam di Kecamatan Trawas. Makam Ki Ageng Surodito (Mbah Syuro), keturunan keempat dari Nyi Rondo Kuning dan sepupu Sunan Kudus, menjadi bukti kuat perkembangan Islam sejak abad ke-15. Masjid Baitush-Sholihin yang didirikan pada abad ke-18 juga menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan pertama di daerah Trawas. Dengan sejarah panjang, legenda mistis, serta kekayaan alam berupa lahan sawah yang menjadi sumber pangan, Desa Tamiajeng menjadi salah satu wilayah yang memiliki warisan budaya sangat kaya dan terus dikenang hingga kini.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.