Legenda Sego Langgi dan Sumur Leng Songo

URL Cerital Digital: https://beritajatim.com/sego-langgi-kuliner-legendaris-sendang-duwur-yang-sarat-nilai-sejarah

Di atas perbukitan kecil di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Lamongan, berdiri sebuah masjid tua yang berdampingan dengan makam Sunan Sendangduwur atau Raden Nur Rohmat. Di tempat itulah, setiap tahun, masyarakat setempat menggelar sebuah tradisi yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Tradisi itu dikenal dengan nama Sego Langgi, sebuah hidangan sakral yang hanya dimasak sekali dalam setahun, tepat pada malam Nisfu Sya’ban.

Malam itu selalu menjadi malam yang dinanti. Saat matahari mulai tenggelam di balik bukit Amitunon, masyarakat dari berbagai penjuru desa datang membawa nasi, sayuran, dan ikan untuk dimasak bersama. Di halaman masjid yang diterangi lampu minyak dan cahaya rembulan, mereka duduk melingkar, menyantap Sego Langgi dari satu talam besar. Tidak ada perbedaan di antara mereka, semua duduk sejajar, berbagi makanan dan doa.

Sego Langgi bukan sekadar hidangan. Ia adalah simbol kebersamaan dan rasa syukur. Menurut kisah turun-temurun, tradisi ini sudah ada sejak masa Sunan Sendangduwur. Diceritakan bahwa suatu hari, ketika Sang Sunan sedang dalam perjalanan dakwah, beliau merasa lapar di tengah jalan. Di sekelilingnya hanya ada tanaman liar, namun dengan izin Tuhan, beliau mencabut sembilan batang tanaman wilus, sejenis umbi yang tumbuh di hutan. Tanaman itu kemudian dibungkus dengan daun jati, dan secara ajaib matang dengan sendirinya. Dari peristiwa itulah masyarakat percaya munculnya hidangan Sego Langgi.

Bekas tempat Sunan Sendangduwur mencabut tanaman wilus itu kemudian berubah menjadi sumber air yang jernih. Air itu muncul dari sembilan titik di tanah, sehingga warga menyebutnya Sumur Leng Songo, yang berarti sembilan lubang air. Hingga kini, sumur itu masih ada di kawasan Sendangduwur dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Airnya tidak pernah kering, bahkan pada musim kemarau panjang sekalipun.

Masyarakat percaya bahwa air Sumur Leng Songo memiliki keberkahan yang sama dengan air zam-zam dari Tanah Suci. Setiap malam Nisfu Sya’ban, air itu diambil untuk diminum setelah makan Sego Langgi. Ada juga yang menggunakan airnya untuk memasak hidangan itu, agar membawa keberkahan bagi seluruh desa. Banyak yang meyakini bahwa air tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menenangkan hati, dan memberi kekuatan bagi siapa pun yang meminumnya dengan niat tulus.

Sego Langgi sendiri disiapkan dengan bahan sederhana, tetapi penuh makna. Nasinya putih bersih, dicampur parutan kelapa dan sambal khas yang harum. Lalu ditambah berbagai jenis sayuran hijau seperti daun singkong, daun pepaya, dan beberapa daun lain yang berjumlah tujuh macam. Angka tujuh itu dipercaya sebagai lambang pitulungan, yaitu permohonan pertolongan kepada Allah. Sebagian orang menambahkan ikan asin atau ikan goreng sebagai lauk, karena ikan dianggap lambang rezeki dari laut yang tidak pernah habis.

Sebelum makanan itu disajikan, para ibu menanak nasi bersama di dapur umum, sementara para bapak menyiapkan talam besar untuk tempat hidangan. Setelah semua siap, mereka duduk melingkar di halaman masjid, mengucap doa bersama, lalu menyantap Sego Langgi dengan tangan mereka sendiri. Tidak ada sendok atau piring, karena yang terpenting adalah rasa kebersamaan. Mereka percaya, makan bersama seperti ini menumbuhkan persaudaraan, menghapus kesenjangan, dan memperkuat ikatan antarwarga.

Di sela-sela hidangan, para sesepuh sering bercerita tentang masa lalu Sunan Sendangduwur dan mukjizat air Sumur Leng Songo. Mereka mengingatkan bahwa tradisi ini bukan hanya ritual makan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan rasa syukur atas nikmat pangan yang diberikan Tuhan. Karena itu, setiap tahun, tradisi ini dijaga dengan penuh cinta dan ketulusan, agar anak cucu tidak melupakan akar budaya yang telah diwariskan.

Kini, Sego Langgi bukan sekadar makanan khas, melainkan bagian dari identitas masyarakat Sendangduwur. Setiap kali malam Nisfu Sya’ban tiba, aroma kelapa parut dan sayur rebus memenuhi udara, suara tawa dan doa bergema di halaman masjid, dan air jernih dari Sumur Leng Songo terus mengalir, seolah menjadi saksi bisu betapa eratnya hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.