Legenda Sendang Sono

URL Cerital Digital: https://www.gresiksatu.com/legenda-sendang-sono-desa-suci-pertama-ditemukan-seorang-putri-yang-galau-ditolak-raja/

Di sebuah desa bernama Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, terdapat sebuah telaga tua yang dikenal dengan sebutan Sendang Sono. Air jernihnya tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang telah diwariskan turun-temurun. Konon, sendang ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang putri dari Kerajaan Aceh, ratusan tahun silam.

Cerita bermula ketika Sultan Mahmud Sadad Alam dari Kesultanan Gedah di Aceh melakukan perjalanan jauh ke tanah Jawa. Ia datang membawa putrinya yang cantik jelita, Siti Fatimah Binti Maimun, atau yang lebih akrab dikenal masyarakat sebagai Dewi Retno Suwari. Tujuan kedatangan mereka bukan sembarangan, melainkan untuk melamar sang putri kepada Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.

Namun takdir berkata lain. Lamaran itu ditolak secara halus, sehingga meninggalkan luka di hati sang putri. Dalam suasana kecewa dan galau, rombongan kerajaan Aceh pun memutuskan kembali ke tanah asal. Perjalanan pulang membawa mereka melewati sebuah daerah yang kelak dikenal sebagai Desa Suci.

Saat singgah untuk beristirahat dan melaksanakan sholat, rombongan itu merasa haus dan lelah. Mereka berjalan menuju sisi utara kampung, lalu menemukan air yang muncul dari dalam tanah. Awalnya mereka mengira itu hanyalah genangan biasa, namun ketika disentuh, ternyata itu adalah mata air yang jernih dan segar. Rombongan pun mengambil air tersebut untuk berwudhu dan membersihkan diri.

Dari situlah sendang itu kemudian dikenal sebagai Sendang Sono. Nama “Sono” diambil dari pohon sono besar yang tumbuh kokoh di tepi telaga, memberi keteduhan bagi siapa saja yang singgah. Sementara penamaan Desa Suci diyakini berasal dari fungsi air sendang yang digunakan untuk bersuci dan membersihkan diri.

Sayangnya, perjalanan panjang itu tidak berakhir dengan kebahagiaan. Siti Fatimah Binti Maimun wafat tak lama setelah peristiwa tersebut, dan dimakamkan di Desa Leran, Kecamatan Manyar. Hingga kini makamnya dikenal sebagai Makam Panjang yang masih diziarahi masyarakat.

Air sendang yang dulu digunakan untuk bersuci tetap mengalir, menjadi saksi bisu kisah cinta yang kandas dan perjalanan spiritual umat yang datang setelahnya. Hingga hari ini, masyarakat sekitar masih memanfaatkan Sendang Sono sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol kesucian.

Lebih dari sekadar legenda, kisah Sendang Sono mengajarkan bahwa air bukan hanya kebutuhan jasmani, melainkan juga pangan rohani. Ia membersihkan tubuh, menenangkan jiwa, dan menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.