
Di sebuah sudut tenang di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, terdapat sebuah mata air alami yang telah hidup bersama masyarakat sejak masa lampau. Tempat itu dikenal dengan nama Sumber Bulus. Airnya jernih dan sejuk, mengalir di antara akar-akar pohon tua yang menjulang tinggi. Di sekelilingnya tumbuh pepohonan besar seperti beringin, mahoni, dan keduh, yang membuat suasana di sana selalu terasa teduh sekaligus misterius. Bagi masyarakat setempat, Sumber Bulus bukan sekadar sumber air, melainkan juga tempat yang sarat kisah, penuh legenda dan nilai-nilai luhur tentang hubungan manusia dengan alam.
Menurut penuturan para sesepuh, nama Sumber Bulus berasal dari kisah lama tentang keberadaan hewan bulus atau kura-kura air tawar yang hidup di sumber tersebut. Dulu, bulus dianggap sebagai penjaga sumber air. Hewan itu dipercaya membawa keberkahan karena tempat yang ia huni selalu memiliki air yang jernih dan tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau. Namun, selain menjadi bagian penting dari ekosistem, bulus juga sempat menjadi sumber pangan bagi masyarakat sekitar. Dagingnya diolah dalam upacara adat atau dimasak bersama rempah sebagai sajian khas masyarakat pedesaan Jawa Timur. Kini, bulus sudah termasuk hewan yang dilindungi, sehingga keberadaannya dijaga dan dikonservasikan agar tidak punah.
Sumber Bulus juga terkenal karena berbagai cerita mistis yang menyelimuti keberadaannya. Warga percaya bahwa tempat ini dijaga oleh sosok gaib bernama Nyi Ronce, seorang perempuan tua berpakaian kebaya hijau yang muncul di bawah pohon mahoni pada waktu-waktu tertentu. Ia dianggap sebagai penunggu sumber, pelindung sekaligus penjaga keseimbangan alam di wilayah itu. Karena kepercayaan inilah muncul pantangan bagi siapa pun yang datang ke Sumber Bulus untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau. Konon, siapa saja yang melanggar larangan itu akan tertimpa kesialan. Cerita ini sudah turun-temurun, dan banyak warga yang mengaku pernah menyaksikan peristiwa aneh ketika ada orang yang melanggar pantangan tersebut.
Selain kisah tentang Nyi Ronce, masyarakat juga meyakini bahwa di sekitar Sumber Bulus hidup arwah anak-anak yang dulu tenggelam di tempat itu. Mereka kerap menampakkan diri dalam wujud anak kecil yang bermain air atau tertawa di tepi sumber. Namun, warga percaya bahwa roh-roh itu tidak jahat, melainkan hanya penjaga kecil yang menjaga suasana damai di sekitar sumber. Bagi masyarakat setempat, semua kisah ini adalah bagian dari cara alam berbicara: mengingatkan manusia agar selalu bersikap sopan dan berhati-hati ketika berhadapan dengan kekuatan alam yang tak terlihat.
Sumber Bulus juga memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting. Sejak zaman dahulu, air dari sumber ini digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti minum, mandi, dan mengairi sawah. Airnya yang jernih dan dingin dianggap membawa kesegaran serta kesehatan. Di masa lalu, buah-buahan dari pohon di sekitar sumber, seperti beringin dan keduh, sering menjadi bahan pangan tambahan bagi warga. Getah dan daun dari beberapa tanaman di sekitar sumber juga digunakan dalam pengobatan tradisional. Semua itu memperlihatkan betapa erat hubungan masyarakat dengan alam yang mereka huni.
Kini, Sumber Bulus memang tidak lagi seramai dulu. Sejak pandemi, tempat itu ditutup dan jarang dikunjungi orang. Daun-daun kering menutupi permukaan air, dan ranting-ranting pohon menjulur di atasnya seperti tangan alam yang menunggu untuk disentuh kembali. Namun, bagi masyarakat Kediri, Sumber Bulus tetap menjadi simbol penting: sumber kehidupan, sumber cerita, dan sumber nilai-nilai yang mengajarkan keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib.
Dari legenda Sumber Bulus, kita dapat memetik pelajaran bahwa air, pohon, dan makhluk hidup di sekitarnya bukan hanya unsur alam, tetapi juga bagian dari kebudayaan manusia. Kepercayaan terhadap penunggu sumber bukanlah tanda ketakutan, melainkan wujud penghormatan terhadap kekuatan alam yang memberi kehidupan. Bulus, pohon beringin, dan sumber air menjadi lambang harmoni yang abadi antara manusia dan alam. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjaga alam berarti menjaga diri kita sendiri, karena kehidupan akan terus mengalir selama manusia tahu caranya berterima kasih pada bumi.