Di sebuah desa bernama Gulomantung, Kecamatan Kebomas, Gresik, terdapat sebuah sumur tua yang hingga kini masih menjadi jejak peninggalan berharga. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Gemuling. Tidak ada prasasti, papan informasi, ataupun catatan tertulis yang benar-benar menjelaskan asal-usul sumur tersebut. Namun, masyarakat setempat menyimpan kisah yang diwariskan turun-temurun, dan kisah itu selalu dikaitkan dengan perjalanan dakwah Sunan Giri, salah satu tokoh penting Wali Songo di tanah Jawa.
Konon, sumur ini sudah ada sebelum kedatangan Sunan Giri ke Gulomantung. Pada suatu waktu, beliau tengah melakukan perjalanan dakwah. Malam semakin larut dan waktu Subuh kian mendekat. Sunan Giri yang dikenal tekun menjaga ibadah segera mencari air untuk berwudu. Ia mendapati sebuah sumur di tengah desa. Sumur itu tegak lurus ke bawah, sebagaimana sumur pada umumnya, dengan sumber air yang jernih di dasarnya.
Namun, masalah muncul ketika beliau hendak mengambil air. Di sekitar sumur tidak ada ember atau alat penimba yang bisa digunakan. Sunan Giri pun berkeliling dari rumah ke rumah warga desa untuk meminjam wadah. Anehnya, tidak seorang pun bersedia meminjamkan. Hati Sunan Giri tetap sabar, meski waktunya kian sempit.
Dalam keterbatasan itu, muncul karomah beliau. Dengan izin Allah, Sunan Giri menggulingkan sumur yang semula tegak menjadi miring. Ajaibnya, air di dalam sumur tetap tidak tumpah dan justru menjadi lebih mudah dijangkau. Sejak saat itu, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Gemuling. Kata “gemuling” sendiri dalam bahasa Jawa berarti “guling” atau “mengguling”.
Bagi masyarakat, air dari sumur bukan hanya sekadar pelepas dahaga, melainkan sumber kehidupan. Air juga berfungsi sebagai sarana suci dalam ibadah, sebagaimana wudu yang dilakukan Sunan Giri kala itu. Kisah Sumur Gemuling menjadi pengingat bahwa pangan dalam bentuk air adalah anugerah besar yang menjaga manusia tetap hidup, sehat, dan dekat dengan Sang Pencipta.
Hingga kini, Sumur Gemuling masih berdiri sebagai penanda sejarah, meski tanpa prasasti ataupun naskah kuno. Ia menyimpan cerita tentang kesederhanaan, keteguhan hati, dan mukjizat yang lahir dari iman. Masyarakat setempat percaya bahwa air sumur ini membawa berkah, sebagaimana berkah dakwah yang ditinggalkan Sunan Giri di bumi Gresik.