Legenda Sumur Nganten

URL Cerital Digital: https://bojonegorokab.go.id/berita/418/nyadran-sraturejo-kenalkan-sejarah-desa-kepada-generasi-muda

Di Desa Sraturejo, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah petilasan yang dikenal dengan nama Sumur Nganten. Tempat ini bukan sekadar sumur biasa. Ia dipercaya sebagai peninggalan bersejarah dari masa awal Kerajaan Majapahit, sekaligus saksi bisu perjalanan hidup seorang pemimpin bijaksana bernama Akuwu Basunanda dan istrinya, Labda Sari. Hingga kini, airnya dianggap suci dan masih digunakan masyarakat untuk minum maupun ritual adat.

Alkisah, di masa lampau ketika kekuasaan kerajaan Jawa tengah diguncang oleh pemberontakan Kahuripan, Daha, Kediri, hingga Singasari, hiduplah seorang pemimpin kadipaten bernama Akuwu Basunanda. Beliau memimpin dengan hati yang lembut, penuh kearifan, dan selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Namun, tidak semua orang setia pada kepemimpinannya. Patihnya sendiri, Jaya Singa, berkhianat dan menggulingkan pemerintahan.

Basunanda bersama permaisurinya, Labda Sari, ditangkap dan dipenjara. Takhta pun direbut Jaya Singa. Tetapi rakyat yang masih setia tidak tinggal diam. Mereka mengenang kebaikan dan kebijaksanaan Basunanda, lalu bangkit menentang sang patih yang lalim. Pertempuran besar pun tak terelakkan. Pada akhirnya Jaya Singa tewas di medan laga, sementara Basunanda dan istrinya dibebaskan.

Sebelum kembali duduk di takhta, Basunanda merasa dirinya harus mensucikan batin dan raganya. Ia bersama Labda Sari pergi ke sebuah sumur yang berada di Desa Sraturejo. Dengan penuh kesungguhan, mereka membasuh wajah, tangan, dan kaki di air sumur itu. Airnya jernih dan sejuk, dipercaya mampu menghapus segala sengkala dan membersihkan diri dari kotoran batin. Sejak saat itu, sumur tersebut dinamakan Sumur Nganten, karena menjadi saksi kesucian pasangan suami istri yang saling setia.

Hingga kini, Sumur Nganten tetap dijaga oleh masyarakat. Tidak sedikit pasangan pengantin yang datang untuk membasuh diri di sana, dengan harapan rumah tangga mereka bersih dari halangan dan dipenuhi keberkahan. Air sumur dipercaya bukan hanya sumber minum yang menyegarkan, melainkan juga air suci yang membawa doa, harapan, dan ketenangan.

Tradisi ini terus dilestarikan dalam berbagai upacara adat. Salah satunya adalah nyadran, sebuah ritual Jawa untuk mengenang leluhur dan menyucikan diri. Dalam nyadran, masyarakat berkumpul membawa doa dan sesaji, lalu air Sumur Nganten dijadikan bagian penting dari prosesi. Semua ini menunjukkan betapa erat hubungan masyarakat dengan air, bukan hanya sebagai kebutuhan jasmani tetapi juga sebagai sarana penghubung spiritual.

Legenda Sumur Nganten memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan runtuh, sedangkan pemimpin yang tulus akan selalu dikenang rakyatnya. Ia juga mengingatkan bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga, karena di dalamnya tersimpan nilai suci yang diwariskan turun-temurun.

Kini, Sumur Nganten bukan hanya petilasan bersejarah, tetapi juga menjadi tempat wisata budaya dan spiritual. Para pengunjung datang untuk melihat sumur yang sederhana namun penuh makna, merasakan kesejukan airnya, dan larut dalam cerita lama yang terus hidup di hati masyarakat Bojonegoro.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.