
Di Tuban, kota pesisir yang menjadi saksi pertemuan budaya Jawa dan ajaran Islam, terdapat sebuah sumur yang tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Srumbung, peninggalan yang dipercaya berkaitan dengan karomah Sunan Bonang. Hingga kini, airnya tetap dimanfaatkan masyarakat, bukan hanya untuk minum dan mandi, tetapi juga sebagai simbol kesucian yang penuh makna.
Alkisah, cerita ini bermula dari perjalanan seorang pendeta atau Brahmana dari India. Ia mendengar tentang kebesaran nama Sunan Bonang, seorang wali yang dihormati di tanah Jawa. Dengan niat menguji kesaktian, sang Brahmana berlayar membawa kitab-kitab yang akan digunakannya untuk adu ilmu. Kapal besar yang ditumpanginya membelah ombak menuju pesisir Tuban.
Namun, alam rupanya tidak berpihak padanya. Di tengah perjalanan, badai datang dan kapal yang ia naiki karam dihantam gelombang. Semua kitab yang dibawanya hilang tenggelam di dasar laut. Beruntung, sang Brahmana selamat dan berhasil menepi di pantai Tuban. Dalam keadaan letih dan putus asa, ia tak menyangka bertemu langsung dengan Sunan Bonang yang sedang berjalan di tepi pantai.
Di hadapannya, Sunan Bonang menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari tempat itu memancar air jernih, dan lebih menakjubkan lagi, kitab-kitab sang Brahmana yang hilang ikut keluar dari sumber air tersebut. Peristiwa luar biasa itu membuat sang Brahmana terperangah. Rasa takjub segera mengalahkan niatnya untuk menantang. Dengan penuh hormat ia bersimpuh, mengakui kebesaran Sunan Bonang, dan kemudian dengan tulus bersedia memeluk Islam serta menjadi murid sang wali.
Karena air dari sumur itu terus mengalir tanpa henti, Sunan Bonang memerintahkan agar dibuat sebuah srumbung, semacam wadah atau pembatas agar aliran air tidak menyebar ke mana-mana. Sejak saat itu, sumur tersebut dikenal sebagai Sumur Srumbung. Airnya digunakan masyarakat sebagai sumber air mandi, air bersih, dan dipercaya membawa berkah.
Bagi warga Tuban, Sumur Srumbung bukan hanya sekadar sumber air, tetapi juga pengingat akan kisah spiritual yang mengajarkan kerendahan hati, ketulusan, dan kebesaran iman. Air yang mengalir deras dari sumur itu menunjukkan betapa pangan berupa air adalah penopang hidup yang tak tergantikan. Ia bukan hanya kebutuhan jasmani, melainkan juga sarana penyucian diri, baik secara fisik maupun batin.