
Pada awal abad ke-15, angin laut membawa sebuah rombongan kecil dari tanah Campa menuju ke tanah Jawa. Rombongan itu dipimpin oleh Syekh Ibrahim Asmoroqondi, seorang ulama besar yang kelak menurunkan para wali penyebar Islam di Nusantara. Bersamanya ikut pula istri serta dua putra, yaitu Ali Murtadlo dan Ali Rahmatullah. Di antara pengikutnya, ada seorang tokoh muda yang kelak dikenal dengan sebutan Sunan Kapasan.
Perjalanan panjang dimulai dari Campa. Mereka menumpang perahu dagang, singgah di berbagai pelabuhan, dan menyusuri pantai Sumatra. Di Palembang, mereka disambut oleh Adipati Arya Damar, seorang bangsawan Majapahit yang diangkat sebagai penguasa wilayah itu. Dalam pertemuan panjang penuh persaudaraan, Syekh Ibrahim berbincang tentang nilai-nilai spiritual. Dari diskusi mendalam mengenai Hindu dan Islam, Arya Damar akhirnya tersentuh hatinya. Ia memeluk Islam dengan nama baru Arya Abdillah, yang berarti Kesatria Abadi Tuhan.
Setelah tiga bulan menetap di Palembang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju tanah Jawa. Kapal yang mereka tumpangi kembali singgah di beberapa pelabuhan besar, mulai dari Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Semarang, hingga Jung Mara. Akhirnya, mereka mendarat di Tuban, sebuah pelabuhan internasional yang ramai sejak abad ke-11. Para pedagang dari India, Burma, Kamboja, dan Campa pernah singgah di sana, menjadikannya pusat pertemuan berbagai budaya.
Syekh Ibrahim memilih menetap di sebuah desa bernama Gesik, agak jauh dari hiruk pikuk pelabuhan. Dari sanalah ia memulai dakwah, menebarkan ajaran Islam dengan penuh kebijaksanaan. Setelah beliau wafat, perjalanan dakwah dilanjutkan oleh putra-putranya. Sunan Ampel, yang bernama asli Ali Rahmatullah, kemudian mendapat tanah perdikan di Ngampeldenta. Sementara itu, Ali Murtadlo diangkat menjadi Syahbandar Gresik, menggantikan Syekh Maulana Malik Ibrahim.
Di sisi lain, tokoh yang kelak dikenal sebagai Sunan Kapasan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Sunan Ampel. Ia mendapat tugas untuk berdakwah di kawasan utara Ngampeldenta. Tugasnya tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Setiap hari, ia menyiapkan kapas, bahan serat alami yang diperoleh dari tanaman yang banyak tumbuh di tanah Jawa. Kapas itu dipintal menjadi benang, lalu dipakai sebagai sumbu lampu minyak untuk penerangan di pesantren dan masjid.
Kapas yang putih bersih bukan hanya bahan pakaian. Dalam kehidupan masyarakat kala itu, kapas menjadi sumber cahaya. Sumbu kapas yang direndam minyak mampu menyalakan lampu, menerangi malam-malam panjang ketika para santri belajar, beribadah, dan menulis kitab. Kehadiran kapas menjadikan ilmu pengetahuan terus berkembang tanpa terhenti oleh gelapnya malam. Karena perannya yang selalu menyediakan kapas, masyarakat menjulukinya Sunan Kapasan atau Ki Ageng Kapasan.
Nama Kapasan pun melekat pada wilayah tempat ia tinggal. Dari situlah lahir kisah tentang seorang tokoh sederhana yang memberi arti besar melalui kapas, sumber pangan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan.
Legenda Sunan Kapasan mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak kecil bisa membawa cahaya bagi banyak orang. Kapas, yang berasal dari alam, bukan hanya simbol kesucian dengan warnanya yang putih, tetapi juga simbol pengetahuan dan pencerahan. Lewat kapas, para santri dapat membaca kitab, belajar agama, dan menyebarkan ilmu. Surabaya pun mengenang jasa Sunan Kapasan, seorang penyebar Islam yang menjadikan cahaya kapas sebagai penuntun menuju jalan terang.