Legenda Telaga Buret yang berada di Kabupaten Tulungagung menyimpan kisah tentang kesuburan dan harapan masyarakat agraris. Dahulu kala, daerah tersebut pernah dilanda bencana besar: kekeringan berkepanjangan dan serangan hama yang membuat para petani gagal panen. Krisis pangan melanda, dan masyarakat berada dalam kesulitan.
Dalam situasi itu, para demang dari tiga desa datang menghadap seorang tokoh bijak bernama Eyang Jigang Joyo. Mereka memohon solusi agar rakyat bisa terbebas dari paceklik. Eyang Jigang Joyo kemudian menyampaikan sebuah pesan penting: Dewi Sri, sang dewi kesuburan, dan Joko Sedono telah meninggalkan negeri itu menuju negara Cempa. Hal itu terjadi karena masyarakat sudah lupa menjalankan adat dan tradisi yang selama ini menjaga keseimbangan hidup.
Untuk memulihkan keadaan, Eyang Jigang Joyo mengajak para demang beserta warga agar kembali “memboyong” Dewi Sri dan Joko Sedono ke Telaga Buret. Setelah keduanya dipersilakan hadir kembali secara simbolis, dilakukanlah upacara siram jamas, yaitu ritual penyucian di Telaga Buret. Saat itu pula terjadi keajaiban: air mengalir deras dari telaga, mengairi sawah-sawah, dan membuat tanaman kembali tumbuh subur.
Sejak peristiwa itulah, Telaga Buret dipercaya sebagai sumber kehidupan. Airnya tidak hanya menjadi penopang irigasi ribuan hektare sawah, tetapi juga menjadi pusat tradisi masyarakat. Hingga kini, masyarakat sekitar masih melestarikan upacara Ulur-Ulur di Telaga Buret, sebagai wujud syukur atas berkah kesuburan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga adat, keseimbangan alam, dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Legenda Telaga Buret bukan sekadar cerita rakyat, melainkan cermin kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat Tulungagung, menyatukan nilai budaya, lingkungan, dan kepercayaan dalam satu kesatuan yang lestari.