Di Dusun Sono, Desa Kalikuning, berdiri sebuah telaga yang hingga kini masih menyimpan cerita lama. Telaga itu dikenal dengan nama Telaga Sono. Airnya tenang, dikelilingi dua bukit yang berbeda rupa, yang satu penuh batu karang dan yang lain bertanah subur. Dari dulu sampai sekarang, telaga ini menjadi sumber kehidupan, terutama sebagai penyedia air untuk irigasi sawah di desa-desa sekitarnya.
Konon, telaga ini tidak selalu berada di Sono. Dahulu para wali hendak membuat telaga di Dusun Bedog, sehingga orang-orang menyebutnya Telogo Bedog. Namun, niat para wali gagal karena ketahuan oleh seorang gadis bernama Bedog Supit. Menurut keyakinan saat itu, keberadaan gadis dapat mengurangi kesaktian para wali. Maka mereka meninggalkan tempat itu dan memilih membuka telaga baru di wilayah Sono.
Tanah yang kini disebut Oro-oro Sono dipercaya sebagai bekas tempat batu besar yang dipindahkan ketika para wali membuat telaga. Batu-batu itu diangkat untuk menahan longsoran agar tanah tidak menutup telaga yang baru dibuat. Hingga kini, batu besar itu masih bisa dilihat, menjadi saksi bisu peristiwa masa lalu.
Kisah pemeliharaan Telaga Sono pun tak lepas dari sosok Mbah Jokerto. Beliau menebangi pohon-pohon di sebuah cekungan bukit, lalu menutup sela-sela rongga agar bisa menampung air hujan. Dari situlah air terkumpul dan mengisi telaga hingga penuh. Sejak saat itu, debit air Telaga Sono tidak pernah berkurang, sekalipun musim berganti. Inilah yang membuat masyarakat percaya bahwa telaga ini memiliki keistimewaan tersendiri.
Dahulu, di permukaan telaga terdapat hamparan wangkong, semacam tanah mengambang yang tertutup rumput. Tebalnya hampir satu meter, terbuat dari daun-daun lapuk, dahan, dan akar yang saling mengikat. Wangkong membentang dari ujung ke ujung, bahkan hewan ternak bisa berjalan di atasnya. Ada pula kisah bahwa wangkong dipotong-potong dan dipakai seperti rakit untuk berlayar ke tengah telaga.
Air Telaga Sono menjadi berkah bagi banyak orang. Masyarakat Sono sendiri tidak banyak menikmatinya, karena aliran air telaga justru dimanfaatkan oleh desa-desa di bawahnya, seperti Desa Gegeran. Setiap musim tanam, air ini mengalir menghidupi sawah-sawah, menjadikan tanah subur dan menghasilkan padi yang melimpah. Dari telaga yang sederhana inilah ketahanan pangan masyarakat terjaga.
Telaga Sono dikelilingi dua bukit. Di sisi barat, bukit tampak keras berbatu, hasil galian saat telaga dibentuk. Di sisi timur, bukit penuh tanah gembur, sisa tanah yang diangkat. Masyarakat kini menyebut bukit berbatu itu sebagai Gunung Tipis. Bagi mereka, setiap batu dan gundukan tanah adalah jejak nyata dari kisah leluhur.
Telaga Sono bukan hanya sumber air, melainkan juga sumber cerita. Dari airnya tumbuh padi, dari padinya masyarakat bisa makan. Dari kisahnya, orang belajar tentang kerja keras, gotong royong, dan kesabaran. Air yang jernih di telaga ini menjadi bukti bahwa sumber pangan tidak pernah lepas dari keberadaan air. Hingga kini, Telaga Sono tetap setia memberi kehidupan, menyirami sawah, dan mengingatkan generasi bahwa menjaga air berarti menjaga masa depan.