Di kaki Gunung Lawu, hiduplah seorang tokoh sakti bernama Ki Ageng Getas, penguasa sebuah pedukuhan kecil yang tenang. Malam itu, ia tengah melakukan semedi di sanggarnya. Suasana hening, hanya suara angin malam yang terdengar. Namun tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh, semakin lama semakin keras hingga membuat tanah di sekitarnya bergetar.
Dari sebuah lubang tanah besar, muncullah seekor naga raksasa yang bernama Naga Baru Klenting. Tubuhnya menjulang, sisiknya berkilau, dan aura magis terpancar kuat dari kehadirannya. Kemunculan naga ini begitu mengejutkan, hingga sepasang remaja yang kebetulan berada di dekatnya jatuh pingsan karena ketakutan. Lubang tempat naga itu muncul kemudian ditutup oleh sebuah tombak bercahaya putih, seolah menjadi penanda dari kekuatan gaib.
Namun, tak lama berselang, naga itu berubah wujud menjadi seorang pemuda kecil berperawakan cebol yang memperkenalkan dirinya sebagai Joko Baru Klenting. Di sampingnya berdiri tombak yang masih memancarkan cahaya putih terang. Ki Ageng Getas yang kagum sekaligus penasaran lalu mendekati pemuda itu dan bertanya tentang maksud kedatangannya.
Dengan suara tenang, Joko Baru Klenting menjelaskan bahwa ia sedang mencari ayahnya yang berada di lereng Gunung Merapi. Ki Ageng Getas tersenyum lalu berkata, “Wurung, wurung, wurung. Ini belum Gunung Merapi. Tempat yang kau pijak ini masih bagian dari Gunung Lawu. Jika ingin ke Merapi, berjalanlah ke arah barat daya.”
Mendengar petunjuk itu, Joko Baru Klenting bersiap melanjutkan perjalanannya. Namun sebelum pergi, ia berpesan kepada Ki Ageng Getas bahwa setelah ia meninggalkan tempat itu, sesuatu akan terjadi. Seketika ia kembali berubah menjadi Naga Baru Klenting, mencabut tombak dari tanah, lalu masuk ke dalam lubang untuk melanjutkan pengembaraannya menuju Merapi.
Tak lama setelah naga itu lenyap, dari lubang yang ditinggalkan memancar air yang deras. Semakin lama semakin banyak, hingga mengisi sebuah cekungan besar di tanah. Air itu tidak berhenti mengalir, akhirnya membentuk sebuah telaga yang jernih. Airnya bening, seakan menjadi anugerah bagi siapa saja yang singgah. Tempat itu kemudian dikenal sebagai Telaga Wahyu, telaga yang hingga kini tetap menjadi sumber air sekaligus destinasi masyarakat sekitar.
Ki Ageng Getas pun membangunkan sepasang remaja yang sebelumnya pingsan. Betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa keduanya belum menikah. Ia pun mengucapkan sebuah sabda, bahwa barang siapa pasangan muda yang belum menikah datang ke tempat itu, maka pernikahannya kelak bisa batal. Dari situlah lahir mitos yang terus hidup di masyarakat, bahwa sepasang kekasih yang berkunjung ke Telaga Wahyu sebelum menikah akan berakhir dengan putus cinta.
Meski kini masyarakat menganggapnya sekadar kepercayaan, legenda tersebut tetap melekat kuat pada citra Telaga Wahyu. Di balik mitosnya, ada pesan penting bahwa telaga adalah tempat sakral yang harus dijaga kesuciannya. Lebih dari sekadar cerita gaib, air telaga menjadi lambang pangan alami yang memberi kehidupan bagi manusia. Air dari Telaga Wahyu dipandang sebagai anugerah, penyegar yang tak ternilai, sekaligus simbol ikatan antara manusia dengan alam dan tradisinya.
Maka, kisah Naga Baru Klenting bukan hanya dongeng asal-usul sebuah telaga, melainkan pengingat bahwa air adalah sumber pangan yang menghidupi, menghubungkan manusia dengan budaya, serta meneguhkan makna dalam perjalanan hidup mereka.